Peresmian Ma'had eL Islamiy

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto menyerahkan SK Mudir Ma'had kepada Ustadz Noviandi dalam acara Pembukaan Ma'had, pada hari Sabtu, tanggal 1 Muharam 1433 / 26 November 2011

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto (Pembina)

Didampingi Ustadz Wahadi (Ketua Umum) pada Pembukaan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa", Sabtu 1 Muharam 1433 H

Para Santri pada acara pembukaan

Pembukaan Ma'had el Islamiy " 'Aqu-lu el Muqoffa" pada Hari Sabtu, tanggal 1 Muharram 1433 H di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat

Hari Pertama didalam kelas

Santriwan yang sedang konsentrasi mendengar pengarahan hari pertama mereka didalam kelas

Pembukaan dan Peresmian Ma'had

Sabtu, 1 Muharam 1433 / 26 November 2012 di Gedung Auditorium Yayasan AKUIS Pusat diresmikan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa

Gedung Ma'had yang tampak kokoh

Gedung Ma'had dalam komplek Yayasan AKUIS Pusat yang terletak dipinggir Jalan Raya Palembang-Betung Km.14 dari Palembang

MASJID eL MUQOFFA

Masjid eL Muqoffa dengan dua lantai yang senantiasa dipenuhi dengan aktifitas ibadah, sholat berjama'ah, kuliah subuh, aktifitas santri dan lainnya.

GEDUNG MA'HAD

Gedung Ma'had dengan dua lantai sebagai wadah aktifitas belajar dan mengajar.

Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

Ringkasan Khutbah Jum'at : Al-Hikmah

Sebagai hamba Allah yang telah mendapatkan “Nur Islam”dituntut kesadarannya untuk senantiasa berupaya melakukan “amalan intiqod”(mawas diri)[qa18s59=al hasyr],kemudian memperhatikan suara nuraninya dalam menerima seruan Kebenaran dari Allah dan RasulNya[qa24s8=al anfal].Karena Allah memberikan peringatan besar kepada hamba-hambaNya yang mendambakan kemudahan dalam menepati petunjuk Islam sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Al Baqarah268-269, sebagai berikut:

“Syaithon itu menjanjikan kepadamu kefakiran dan memerintah kamu dengan perbuatan fakhsya',dan sedangkan Allah menjanjikan kepada kamu ampunan dan kurnia dariNya.Dan Allah itu Maha Luas Maha Mengetahui”;”Dia memberikan al Hikmah kepada siapa yang Dia Kehendaki, dan padahal barang siapa yang diberi Hikmah maka sungguh berarti dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tiadalah akan mengingat akan hal tersebut melainkan mereka yang mempunyai albab”.-

Bahwa sesungguhnya Allah memberikan “penyadaran untuk peningkatan” kepada hamba-hambaNya yang telah mendapatkan Nur Islam ,dengan tujuan agar dapat lebih memahami kepada arti hidup.Karena itu ayat-ayat tersebut memberikan petunjuk yang sangat penting dan wajib dirasakan secara penuh kesadaran, antara lain adalah:
01. Bahwa “Syaithon” yang bersarang didalam nafsu manusia[qa118s4=an nisa]akan senantiasa membuat  seseorang menjadi “faqir(sangat mendambakan) terhadap harta”sehingga berakibat enggan membelanjakan hartanya untuk menepati perintah Ad-Din, dan bahkan dengan sadar dan dengan berbagai alasan berupaya untuk menghindarinya.[qa6-8s100=al'adiyat].-

02. Bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Luas dan Maha Mengetahui telah memaparkan melalui perumpamaan secara sangat sempurna bagi yang senantiasa berinfaq dengan hartanya untuk kepentingan Ad-Din[qa261s2=al baqarah].-
03. Bahwa Allah menetapkan  keberadaan Al Hikmah,yaitu berupa kecerdasan, kecakapan, kecepatan, dan ketepatan dalam menanggapi berbagai permasalahan keummatan hanya dikhususkan kepada hamba-hambaNya yang senantiasa menerima Al Qur-an[qa164s3=ali imron], kemudian senantiasa mengikuti dan memusatkan diri dalam majlis ilmu[qa18s39=az zumar] yang melaksanakan proses tadabbur al Qur-an[qa24s47=muhammad];Hal tersebut hanya dapat dimengerti dan difaham oleh hamba-hamba Allah yang keberadaan Lubb-nya bersih dari berbagai kotoran bathin.-

Dengan analisa sebagaimana tersebut maka akan dapat dirasakan oleh tiap individu yang telah menerima Nur Islam[qa22s39=az zumar],betapa Allah akan senantiasa memberikan kemudahan, karena hal tersebut telah dinyatakanNya melalui  Al Hadits Qudsiy.[HQ.Sh.riw.Al Bukhori,dari Abi Hurairoh].-
Adapun sebenarnya, bagi barang siapa yang memperoleh apa yang disebut “Hikmatun balighoh”(ketajaman faktor IQ & EQ)[qa5s54= al qomar] akan senantiasa bersikap tegas dalam Kebenaran dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk jebakan imperialisme kapitalisme melalui jalan apapun.-
Memang sesungguhnya Allah hanya memberikan al Hikmah kepada hambaNya yang senantiasa bertadabur Al Qur-an dan menjadikan al Qur-an sebagai imamnya dalam seluruh perilaku menegakkan Kebenaran Dinullah ditengah ummat,seperti dibuktikan melalui firmanNya dalam Surah Al Isra' 45, yaitu :
“Dan(ketahuilah)! Manakala kamu baca Al Qur-an,Kami jadikan antaramu dan antara orang-orang yang tidak beriman dengan Hari Akherat terjadi dinding pembatas yang tidak dapat ditembus”.-


Senin, 09 Juni 2014

Amanah dan JanjiNya



Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Qs. Al Ahzab :72)

Tentang Amanah
Amanah dimaksud adalah Risalah Dinullah, yang merupakan amanat terbesar dan wajib dilaksanakan manusia baik secara suka ataupun tidak. Jika tidak dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, maka kedudukan manusia dalam pandangan Al Khaliq adalah zalim dan jahil.  Pengertian zalim dan jahil ini dapat kita rujuk kepada sebuah hadits Rosulullah Salallahu’alaihiwassalam, dengan derajat shahih menurut al Hakim yang diriwayatkan Imam Empat dari jalan Buraidah r.a.,  :
“Hakim (qodhi) terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk jannah. Yang masuk jannah ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka”.
Dari hadits ini dapatlah ditarik pemahaman secara luas bahwa yang dimaksud zalim adalah seseorang yang mengenal kebenaran dari Rabbnya, namun sengaja menyelisihinya, yang merupakan lawan dari kosakata adil : menempatkan sesuatu sesuai posisinya.
Sedangkan makna jahil adalah bodoh dalam perkara Addinul Islam- meskipun seorang cendikiawan, maka ia tidak mengenal kebenaran dan tidak berupaya mencari ilmu Islam sehingga secara pasti ia terjerumus dalam perbuatan sesat.
Maka manusia tidak bisa lari dari amanah yang telah diberikan Allah sebagai penciptanya selama mereka masih tinggal di kolong langit milikNya. Hanya satu jalan yang seharusnya ditempuh tiap manusia, yaitu berupaya mengenal Al haq dengan proses tadabbur (Qs.47:24), dan mengamalkannya dengan segenap kekuatan yang diberikan Allah padanya. Jika tidak demikian maka hanya dua macam alasannya : zalim atau jahil.
Dari ayat 72 Surah Al Ahzab, dikatakan Allah bahwa Amanat tersebut ditawarkan kepada Langit, Bumi, dan Gunung tapi mereka enggan maka diserahkanlah amanah tersebut kepada manusia. Ada baiknya kita melihat beberapa ayat lain yang menjelaskan beberapa alasan penyerahan amanah tersebut kepada manusia.
Makhluq selain manusia seperti langit, bumi, gunung, tumbuhan, hewan, bahkan seluruhnya termasuk atom – atom dan sinar kosmikpun telah melaksanakan tugas yang besar dari Allah yaitu menepati sunatullah (hokum alam) dalam rangka mengayomi manusia melaksanakan tugas selaku Khalifah Allah di muka bumi. Sunatullah bagi mereka dalam bahasa al Quran adalah tasbih, tahmid, sholat, dan sujud.
Tidaklah kamu perhatikan bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sholat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Qs. Annur : 41)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Qs. Al Isra’ : 44).
Apakah kamu tiada kamu perhatikan, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (Qs. Al Hajj : 18)
Tiadalah mungkin Allah memikulkan sebuah amanah kepada makhluqnya diluar batas kemampuan hambaNya. Maka manusia telah dilebihkan Allah dari makhluq – makhluq lainnya berupa kelengkapan pendengaran, pengamatan, hati, fuad (daya kemampuan fikir).
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan fuad, agar kamu bersyukur (Qs. An Nahl : 78).
Disamping diberi kemampuan mendasar untuk tumbuh dan berkembang biak seperti hewan dan tumbuhan berupa nafsu. Namun perlu diwaspadai keberadaan nafsu ini agar tidak mengendalikan fikiran manusia, karena ia merupakan intuisi tempat bersarangnya bisikan iblis. Maka nafsu harus dalam pengendalian rahmat (wahyu) Allah. Karena nafsu sebenarnya pelayan bagi manusia bukan tuan bagi manusia.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang (Qs. Yusuf : 53)
yang dila'nati Allah (syaitan) mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (: nafsu) (Qs. An Nisa : 118).
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia (nafsunya) dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (Qs. Al Anfal : 24).
Maka manusia yang mengabaikan amanah Risalah Dinullah memiliki derajat lebih rendah dari makhluq lainnya, bahkan dari seekor hewan ternak, karena hewanpun telah melaksanakan tugasnya sesuai kelengkapan instink dan nafsunya. Akibatnya manusia akan menerima sanksi hukuman Allah di dunia dan akhirat kelak.
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (Qs. Al ‘Arof : 176).
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs. Al ‘Arof : 179)
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Qs. Al Mukminun : 115).
Ciri Mukmin Bertanggung Jawab Tehadap Amanah
Telah Allah sebutkan dalam wahyuNya bahwa salah satu ciri mukmin adalah apabila dipikulkan amanah, maka ia bertanggung jawab untuk menjaga dan melaksanakannya,
Dan orang-orang yang terhadap amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya bertanggung-jawab (Qs. Al Mukminun : 8).
Lafadz  “roo’un”  dalam ayat di atas bermakna “bertanggung jawab”. Bahkan dijelaskan Rosulullah  dalam hadits muttafaqun ‘alaih bahwa : Setiap kamu adalah roo’in, dan kamu akan diminta pertanggung jawaban atas urusanmu”.
Tentang JanjiNya
“ Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” (Qs. Fathir : 5)
Allah memiliki janji-janji yang pasti terwujud, baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Salah satu janjiNya adalah akan tegaknya Daulah Islam secara kaffah di seluruh muka bumi yang dilalui peredaran malam dan siang di akhir zaman nanti, yang dipangkali dengan dibangkitkanNya al Mahdi,
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (Qs. At Taubah : 33)
Dijelaskan pula melalui lisan Rosulullah,
“Pasti Allah akan jayakan Islam ini di setiap permukaan bumi yang dilalui malam dan siang. Maka Allah tidak akan melewatkan sedikitpun antara pelosok desa dan kota, kecuali Dia akan memasukkan Islam di sana. Dan Dia akan memuliakan mukminin disebabkan iman mereka dan Dia akan menghinakan kafirin karena keingkaran mereka” (HR. Ahmad dari Tsauban r.a, shahih)
Maka tinggallah kita selaku manusia yang akan mati dan pasti akan diminta pertanggung jawaban atas amanah Risalah Dinullah tersebut. Sejauh mana keyakinan dan upaya kita ikut andil sebagai penolong Dinullah? Atau justru kita termasuk golongan muqtasidah (moderat : hanya cari aman) seperti sikap Bani Israil terhadap Rosulullah Musa. Mungkin pula termasuk golongan musyrikin yang justru merintangi Islam? Nau’zubillah min dzalik.
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa (Qs. Hud : 116)
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (Din) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan Din) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong Dinullah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Qs. Asshaff :14).
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (Qs. At taubah : 111).
Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At taubah : 24).

Sabtu, 20 April 2013

Amanah Allah atas RasulNya


Amanah Allah atas RasulNya yang harus dipahami, ada dua bentuk amanah, yaitu “Sistem beribadah kepada Allah” dan “Sistem hukum bagi manusia”. Adapun penjelasan tentang dua perkara di atas adalah sebagai berikut :

1. Amanah berupa Sistem Beribadah kepada Allah

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah (mereka) kepada Rabbmu. Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar beradapada petunjuk jalan yang lurus. “ (Qs. 2: 67 )

Maknanya, ada suatu kewajiban bagi setiap manusia yang telah menyatakan dirinya sebagai Muslim, untuk menepati sistem peribadahan kepada Allah menurut apa yang diajarkan Muhammad Rasulullah. Sistem ibadah dimaksud di sini mengarah kepada lima kewajiban pokok, yaitu syahadatain, menegakkan sholat, mendatangkan zakat, shoum pada bulan Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu. Kelima hal ini dalam bahasa Al Hadits dinyatakan sebagai Arkanun Islam (pembinaan keislaman).
Di sini dapat dipahami bersama bahwa hanya Muhammad Rasulullah sosok manusia yang mendapat izin dalam menjelaskan dan mencontohkan cara beribadah kepada Allah melalui hadits-haditsnya yang shahih. Tidak ada seorang manusia pun selain Nabi Muhammad SAW yang berhak mengeluarkan pendapatnya mengenai cara beribadah kepada Allah, meskipun seorang imam ataupun ulama terpandang, kecuali ia mengutipnya dari Al Qur-an dan Al Hadits yang shahih.
Dengan melihat lafadz sholat, zakat, shoum dan berhaji, di dalam Al Qur-an yang berkedudukan mujmal (ringkas). Artinya, perintah-perintah tersebut baru dapat difahami secara sempurna dan dilaksanakan secara benar setelah mempelajari keterangan dari Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan Allah telah menetapkan rasul-Nya sebagai penjelas dan contoh praktik dalam beribadah. Oleh karena itu, satu ciri dari hadits yang shahih adalah matan atau isinya tidak pernah bertentangan dengan ayat-ayat Al Qur-an.
“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”  (Qs. An Najm:4 )
Jika dalam praktik beribadah ini tidak merujuk kepada petunjuk Al Qur-an dan Hadits shahih bahkan mengambil dari hadits lemah (dho’if) apalagi palsu berarti telah berbuat bid'ah. Sedangkan setiap bid'ah dalam beribadah adalah sesat dan terancam dengan Neraka.

2. Amanah berupa Sistem Hukum bagi Umat Manusia


“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (Ad Din itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. “ (Qs. 45:18 )

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Rasulullah berikut umatnya wajib untuk berada dalam “rel syari’at-Nya” dalam mengatur pola interaksi kehidupan, yaitu berlandaskan wahyu, bukan atas dasar nafsu, filsafat, dan logika manusia. Apabila diterapkan sistem hukum illahiyah, Allah jamin akan membawa bermacam kemakmuran dan kebahagian hidup bagi manusia itu sendiri. Sebaliknya, bila diabaikan perintah ini bahkan mengambil sistem hukum jahiliyah pasti akan membawa malapetaka, perpecahan, permusuhan dan kesengsaraan yang tidak mampu diatasi manusia manapun.
Analisis Hukum
Sebagaimana yang telah sama dipahami, Al Qur-an adalah wahyu dari Allah yang mempunyai ketetapan hukum mutlaq dan kedudukannya pada rutbah tertinggi (Qs. 39:23). Maka kedudukan Hadits Rasulullah adalah berada pada rutbah kedua setelah Al Qur-an. Betapapun tingginya derajat Hadits tersebut, keberadaannya tidak mungkin dapat melemahkan atau mengubah ketetapan hukum Al Qur-an karena kedudukannya menjelaskan Al Qur-an dan bukan mengada-ada.
Diterangkan dalam Qur-an surah al Maidah ayat 67 sebagai berikut :

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

Mengambil satu sisi dari maksud ayat di atas, yaitu perihal cara mencari ketetapan hukum dalam Islam,  Rasulullah telah menerangkan, anatara lain:
a. Hadits Shohih riwayat Thobrani dari jalan Abi Huroiroh, Rasulullah SAW bersabda :

Rasul bersabda: “Aturan hukum (Sunnah) itu ada dua macam; sunnah dalam hukum fardlu dan sunnah dalam hukum bukan fardlu, maka sunnah yang di dalam hukum fardlu itu sumbernya dalam Al Qur-an. Pengambilannya adalah petunjuk dan meninggalkannya hukumnya sesat. Sunnah yang sumber asalnya bukan dalam Kitabullah Ta'ala. Pengambilannya fadhillah (keutamaan) dan meninggalkannya tidak dipandang salah.” 

Penilaian : Adz Dzukhri dan Al Hakim menilai kedua hadits tersebut shohih dengan syarat Muslim. Ulama Ahli Hadits menilai sanadnya tsiqah dan matannya shohih.

b. Hadits Shohih riwayat Muslim dan Ahmad melalui jalan `Aisyah, Rasulullah bersabda :

“Bagaimana keadaan seseorang yang telah sampai kepada mereka dariku perkara yang aku beri kemurahan padanya, maka mereka membenci dan menjauhi darinya. Maka Demi Allah! Niscaya aku lebih tahu dengan urusan Allah dari mereka dan aku lebih sangat bertaqwa kepadaNya daripada mereka.”

Pembahasan
Analsis berdasarkan matan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa dalam memahami keterangan dari Hadits Rasulullah saw, harus ditelusuri secara rinci tentang matan Hadits tersebut, yaitu :
1. Di antara rincian matan sebuah Hadits harus dapat mengamati nashnya dari Al Qur-a. Apabila ternyata secara utuh menjelaskan sesuatu yang memang ada tersebut dalam ayat Al Qur-an, hukumnya mutlaq, apakah itu dalam bentuk perintah atau larangan.
2. Apabila matan Hadits memuat beberapa rincian dan ternyata diantara rincian itu ada petunjuknya dalam Al Qur-an maka jelas dihukumkan Mutlaq sedangkan rincian lain yang tidak berdasar ayat langsung dari Al Qur-an maka berarti fadlilah  atau keutamaan.
3. Apabila matan Hadits itu berupa larangan atau perintah, tetapi nashnya dalam Al Qur-an tidak ada, maka dihukumkan Muqoyad. Karena pada dasarnya Rasulullah itu menjelaskan Al Qur-an berdasarkan wahyu dari Allah sebagaimana tercantum didalam Al Qur-an surah An Najm ayat 3 dan ayat 4.
4. Apabila dihadapkan dua pilihan dan keduanya adalah kemungkinan dalam bentuk perintah dan mungkin dalam bentuk larangan, sedangkan keduanya adalah sama-sama benar,  Al Qur-an memerintahkan mana yang paling mudah, sebagaimana petunjuk :

  • Dalam surah al Hajj ayat 78 bahwa Ad Din itu telah Allah tetapkan tidak ada kesempitan, tetapi justru bermuatan petunjuk yang menjelaskan tentang berbagai kemudahan dalam cara mengikuti petunjuk bagi menepati perintah Islam.
  • Dalam surah al Baqoroh ayat 185,  Allah menghendaki kemudahan dan bukan kesempitan.
  • Dalam Hadits Shohih riwayat Ahmad, Al Bukhori, Thobrani dari jalan Muhjan bin Al Adro; riwayat Thobrani dari jalan `Imron bin Khushain; riwayat Thobrani, Ibnu `Adi dan Adl Dliya dari jalan Anas; dan juga ditakhrijkan oleh Imam As Suyuthi dalam Al Jami' jilid II halaman 10.
Untuk diketahui, sesungguhnya dalam diri Rasulullah SAW itu secara keseluruhan merupakan wujud dari pengamalan Al Qur-an atau sosok Al Qur-an. Kemudian Rasulullah pula yang menerangkan tentang rincian hukum-hukumnya dengan tidak mungkin dia akan bertentangan atau berselisih dengan wahyu  Allah.

Minggu, 03 Maret 2013

Hijrah




Kata hijrah berasal dari Bahsa arab, yang berarti meninggalkan, memutuskan, menjauhkan diri. Dalam konteks sejarah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Rosulullah dan umatnya, hijrah adalah memutuskan, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang dilakukan masyarakat Mekkah sehingga menghalangi terwujudnya kemurnian Islam sehingga Rosulullah bersama para sahabat berpindah ke Madinah dengan tujuan mempertahankan dan mene- gakkan risalah Allah berupa akidah dan syari'at Islam. Adapun sebagian ulama' mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari kekufuran menuju keimanan.
Petunjuk dalil Qs.9: 20

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah paling tinggi derajatnya disisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Pada lafadz akhir Allah nyatakan “paling tinggi derajatnya disisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. Hal ini diperuntukkan bagi orang yang menepati:
1.    Kaedah Iman
2.    Kaedah Hijrah
3.    Jihad Dengan Harta dan Diri
Ketiga hal diatas tidak dapat dipisahkan. Barang siapa yang mampu menepati ketiga hal tersebut maka Allah akan memberikan janjinya. Bagaimana apabila hanya beriman tetapi tidak  melaksanakan hijrah ? Allah nyatakan dalam Qs.2:218



إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢١٨)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah lalu berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pada ayat ini ada dua pengamalan, yaitu
-    Orang yang beriman
-    Orang yang berhijrah dan berjihad
Dalam memahami hal tersebut bahwa orang yang beriman dan tidak menepati kaedah hijrah dan jihad, hanya semata-mata mengharap rahmat Allah. Dan Allah tegaskan kembali dalam Qs.8:72
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah (akan tetapi) jika mereka minta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

Berbeda dengan ayat yang Allah nyatakan dalam Qs.9:20. Hanya ada satu pengamalan yaitu orang yang beriman, berhijrah dan berjihad.
Inilah yang harus kita pahami, mengapa pada dua ayat yang menjelaskan tentang hijrah seolah-olah sama tetapi memiliki makna berbeda.

Tujuan Hijrah:
1.Menjaga Kesucian Islam(Qs.39:3)
Ingatlah hanya kepunyaan Allah Din yang bersih. Kepunyaan Allah adalah aturan yang bersih, bebas dari unsur kemusyrikan.
2.Pengkondisian Diri (Qs.59:9-10)
Mewujudkan rasa cinta kasih seperti halnya kehidupan berjama'ah kaum anshor dan muhajirin.
3.Memiliki Strategi Pengembangan Islam (Qs.49:7)
Dalam upaya menjalankan syariat Islam senantiasa mengikuti apa yang telah Allah tetapkan melalui bimbingan RosulNya.
4.Menyongsong Janji Allah (Qs.35:5)
Allah memberikan kepastian kepada seluruh manusia baik kafir ataupun mukmin bahwa janji Allah-lah yang paling benar. Dan salah satu yang sama-sama kita upayakan untuk menjemputnya adalah yang Allah terangkan dalam Qur'an antara lain : Qs.9:33, Qs.61:9, Qs.48:28.
Dan dijelaskan melalui Hadits Rasulullah riwayat muslim bahwa “ Daulah islam dipermukaan bumi ini sesuai dengan janji dan ketetapan Allah dan RasulNya”, atau keberlakuan hukum Allah diatas segalanya.

Hijrah adalah salah satu amal ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin guna menyongsong janji Allah.