Peresmian Ma'had eL Islamiy

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto menyerahkan SK Mudir Ma'had kepada Ustadz Noviandi dalam acara Pembukaan Ma'had, pada hari Sabtu, tanggal 1 Muharam 1433 / 26 November 2011

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto (Pembina)

Didampingi Ustadz Wahadi (Ketua Umum) pada Pembukaan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa", Sabtu 1 Muharam 1433 H

Para Santri pada acara pembukaan

Pembukaan Ma'had el Islamiy " 'Aqu-lu el Muqoffa" pada Hari Sabtu, tanggal 1 Muharram 1433 H di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat

Hari Pertama didalam kelas

Santriwan yang sedang konsentrasi mendengar pengarahan hari pertama mereka didalam kelas

Pembukaan dan Peresmian Ma'had

Sabtu, 1 Muharam 1433 / 26 November 2012 di Gedung Auditorium Yayasan AKUIS Pusat diresmikan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa

Gedung Ma'had yang tampak kokoh

Gedung Ma'had dalam komplek Yayasan AKUIS Pusat yang terletak dipinggir Jalan Raya Palembang-Betung Km.14 dari Palembang

MASJID eL MUQOFFA

Masjid eL Muqoffa dengan dua lantai yang senantiasa dipenuhi dengan aktifitas ibadah, sholat berjama'ah, kuliah subuh, aktifitas santri dan lainnya.

GEDUNG MA'HAD

Gedung Ma'had dengan dua lantai sebagai wadah aktifitas belajar dan mengajar.

Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

KISAH QOBIL & HABIL



Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!." Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam." “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (Qs. Al Maidah 27 – 31)

Dalam artikel ini, penulis mencoba meringkas pokok-pokok kisah dari dua orang anak Nabi Adam yang terdapat dalam Kitab Qashashul Anbiya' yang ditulis seorang Ulama, yaitu Al Hafidz Ibnu Katsir. Sumbernya disandarkan kepada atsar sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Ibnu Ma'sud r.a, yang disebutkan oleh as Suddiy.

Al kisah, bahwasannya Adam dan istrinya Hawa dikaruniakan Allah keturunan yang banyak, sedangkan pada setiap kelahirannya dalam keadaan kembar seorang lelaki dan seorang perempuan. Anak tertua Adam adalah Qobil beserta saudara perempuannya, sedangkan Habil dan saudara perempuannya adalah keturunan berikutnya.

Telah disyariatkan Allah saat itu bahwa dalam pernikahan anak – anak Adam agar masing-masing dipasangkan dengan saudara lainnya secara berselang-seling. Maka Qobil dipasangkan kepada saudara perempuannya Habil. Begitupun Habil, ia dipasangkan kepada saudara perempuannya Qabil yang ternyata lebih cantik rupanya. Hal inilah yang menjadi pemicu rasa dengkinya Qobil terhadap saudaranya Habil. Maka iblispun mulai menjalankan perannya dengan menghasut nafsu Qobil untuk membangkang terrhadap ketetapan Syariat Allah melalui Nabinya.  Maka Adam memerintahkan kedua anak lelakinya tersebut untuk berkurban dengan harta mereka, sebagai permohonan kepada Allah.Adam kemudian berangkat ke Makkah untukmelaksanakan ibadah Haji, lalu berpesan kepada Qobil untuk menjaga keluarganya.
Qobil lalu mengurbankan hasil pertaniannya yang kualitasnya buruk (menunjukkan kebakhilannya). Sedangkan Habil dengan keikhlasan dan taqwanya menyerahkan hewan ternaknya yang terbaik. Sudah barang tentu, Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang dilandasi keikhlasan dan ketaqwaan.
Maka Qobil pun murka seraya berkata : “Sungguh aku akan membunuhmu, sehingga engkau tidak dapat menikahi saudara perempuanku”. Habil menjawab : “Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertaqwa”. Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas dan Abdullah bin 'Amr dikatakan bawa : “Demi Allah, yang terbunuh (Habil) adalah lebih kuat (dari Qobil), namun rasa takut akan dosa menghalanginya untuk membunuh (Qobil)”.

Akhlaq Mulia dari Habil
Keengganan Habil untuk membalas keburukan saudaranya dengan keburukan lainnya menunjukkan akhlaq yang sungguh mulia dari seorang yang beriman, berilmu, takut kepada RabbNya. Rasulullah SAW, bersabda : “Jika dua muslim berhadapan dengan kedua pedang mereka masing-masing, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kalau yang membunuh (memang pantas ke neraka), lalu bagaimana mungkin yang terbunuh (juga masuk neraka)”. Beliau SAW menjawab : “Sebab ia (yang terbunuh) juga berusaha membunuh lawannya”. (HR. Bukhari – Muslim)

Allah nyatakan : “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."
Maksudnya, aku membiarkan keinginanmu untuk membunuhku, meskipun aku lebih kuat dan perkasa darimu. Sebab engkau telah bersikeras untuk itu. Engkau akan kembali dengan membawa dosa akibat membunuhku dan dosa-dosamu sebelumnya. Pendapat ini diungkapkan oleh Mujahid,  as Suddiy, Ibnu Jarir dan lainnya. Maka maknanya bukanlahdosa orang yang terbunuh berpindah kepada si pembunuh.
Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabbmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."(Qs. Al An'am : 164)

Maka sikap dan akhlaq Habil ini dapat kita saksikan pada seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Khalifah Usman Ibnu Affan ra., ketika ia ikhlash menerima ketetapan Allah berupa kematian. Meskipun ia sebenarnya mampu untuk melawan kedzaliman saudara-saudara muslimnya terhasung ajakan Iblis la'natullah,lalu mengikuti jejak kedengkian Qobilsehingga tega membunuh saudaranya tanpa alasan yang benar.


Rabu, 03 April 2013

Nabi Adam a.s.

Sebelum Adam as tercipta, Allah telah menciptakan alam semesta beserta isinya, setelah itu diciptakan malaikat dari cahaya dan jin dari api yang sangat panas, barulah Allah berkehendak menciptakan manusia pertama yaitu Adam, sebagaimana dijelaskan didalam Al-qur’an surah Al-baqarah Ayat 30. Dari dialog dalam ayat tersebut tampak bahwa malaikat mempunyai kekhawatiran dengan makhluk yang akan Allah ciptakan adalah mahluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah dalam perselisihan. Kekhawatiran malaikat disebabkan karna pada masa sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk dari bangsa jin yang mudah terhasut oleh bisikan syaiton sehingga mereka membuat kerusakan.

Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari tanah liat yang kering dan lumpur hitam (Qs.15:26), kemudian dibentuk dengan bentuk yang sebaik-baiknya, setelah sempurna maka Allah meniupkan ruh kepadanya hingga dia menjadi hidup, hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya: "yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah" (Qs.32:7). Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari). Allah pun berkehendak menciptakan Hawa sebagai pendamping hidup Adam, yang pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan, hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :“Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Qs.36:36). Adapun proses kejadian penciptaan Hawa ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa' ayat 1 yaitu :“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak”.Kemudian Adam dan Hawa diizinkan oleh Allah untuk tinggal di jannah, tetapi jannah yang dihuni adam bukan jannah yang dijanjikan Allah untuk para mukmin, sebagaimana para mufassirin menjelaskan bahwa jannah yang dihuni nabi adam dan hawa adalah dataran tertinggi di bumi,lebih tepatnya di mount everest di daerah Nepal, karena jannah yang dijanjikan Allah itu adalah jannah yang tidak akan pernah ada larangannya, jannah yang tidak pernah dilihat, didengar, dan belum pernah dihuni oleh siapapun.

Di dalam Jannah, Allah memberikan karunia yang banyak sekali, semua yang di inginkan Adam dan Hawa tersedia disana, salah satunya berupa makanan yang banyak dan baik yang boleh dimakan oleh Adam dan Hawa, mereka boleh menikmati yang mana saja, kapan saja mereka suka, tetapi Allah melarang untuk mendekati sebuah pohon. Dari sekian banyak makanan dan pepohonan di jannah, hanya satu pohon yang tidak boleh didekati apalagi dimakan yaitu pohon/buah khuldi (Qs.2:35) (Qs.7:19). Ketika  Adam dan pasangannya sedang berjalan di kebun buah-buahan, iblis mempunyai kesempatan menjalankan sumpahnya untuk menyesatkan dan mengeluarkan Adam beserta Hawa dari jannah, iblis pun membisikkan kepada Adam  'wahai Adam, tampaknya kamu dan Isrtrimu sedang lapar dan haus? makanlah buah dihadapanmu itu, lihat warnanya begitu indah dan segar, baunya sangat harum tentu rasanya sangat lezat, namun iblis belum berhasil membujuk Adam,  Iblis mencoba lagi dengan membujuk Hawa. Iblis berkata 'hai Hawa mengapa Allah-mu tidak boleh memakan buah itu?, karena apabila buah itu dimakan maka akan menjadi malaikat dan kekal selamanya dijannah, demi Allah!(Qs.7:20-21), karena Hawa adalah seorang perempuan yang cenderung menggunakan perasaan sebagai dasar pemikiran sehingga membuatnya terpengaruh oleh bujukan iblis dan merayu Adam untuk memetik buah tersebut, sampai akhirnya Adam mendekati pohon itu dan memetik buahnya lalu mencicipinya, maka tampaklah aurat Adam dan Hawa, mulailah mereka menutupinya dengan dedaunan jannah. Lalu Allah menyeru kepada mereka berdua,'bukankah Aku telah melarang kalian untuk mendekati pohon itu(Qs.7:19) dan telah Ku katakan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua (Qs.20:117), sehingga Allah mengusir Adam dan Hawa dari surga untuk tinggal dibumi sampai batas waktu yang telah di tentukan (Qs.2:36) (Qs.20:123), kemudian Adam mengucapkan kalimat taubat karena telah terbujuk bisikan iblis sehingga melanggar aturan Allah, Allah yang Maha Pengampun menerima taubatnya (Qs.7:23), (Qs.2:37).
Maka tinggallah Adam dan Hawa dibumi, mereka diperintahkan untuk mengelola bumi sebagai  tempat mencari penghidupan, karena Allah telah menyediakan sumber daya alam untuk dikelola dan di manfaatkan seperlunya oleh manusia, disanalah manusia hidup dan mati (Qs.7:25). 

Maha Kuasa Allah memberikan keturunan kepada Nabi Adam as sampai saat ini sampai menjelang hari kiamat nanti,dan jelas pula bahwa keturunan Nabi adam yang berimanlah yang Allah pilih sebagai khalifah dan pewaris bumi Allah,sebagaimana yang telah dijelaskan pada Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 165 “kholaif Al-Ardhi” dan pada Al-Quran surat Al-Anbiya' ayat 105 “orang-orang sholeh pewaris bumi”. Namun belum berhenti sampai disini sumpahnya iblis kepada Allah untuk menyesatkan Nabi Adam dan keturunannya, bahkan sampai hari kiamat nanti iblis akan tetap menjalankan misinya menyesatkan umat manusia. Maka dari itu manusia harus berhati-hati terhadap bisikan syaithon yang selalu mengintai setiap saat, tetapi Allah telah berjanji akan menyelamatkan dan memasukkan ke dalam jannah bagi yang mengikuti petunjuknya.QS.17:62-65