Senyum bahagia dan rasa syukur menyelimuti Auditorium YPD AKUIS Pusat pada Senin, 28 Sya’ban 1447 H bertepatan dengan 16 Februari 2026 M. Suasana haru dan semangat tampak dari wajah para santri, asatidz, dan pengurus Yayasan yang hadir dalam acara Pembagian Rapor Santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamy Caturwulan II Tahun 1447 H.
Kegiatan yang diselenggarakan
oleh Pengurus Ma’had ini merupakan agenda rutin Bidang Pendidikan YPD AKUIS
Pusat menjelang libur Ramadan 1447 H. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ustadz
Fikri Akbar selaku Wakil Mudir Ma’had, yang kemudian memandu jalannya
rangkaian acara.
Sambutan Hangat Menyambut Libur Ramadhan
Dalam kata sambutannya, Ketua
Pembina, Ustadz Arbani, menyampaikan pesan mendalam kepada para santri
yang akan menjalani libur selama bulan Ramadan. Beliau berpesan agar masa libur
tidak menjadikan santri lengah, tetapi justru menjadi momentum untuk
meningkatkan kualitas diri.
"Jadikanlah libur ini sebagai ladang ibadah. Tunjukkan
identitas kalian sebagai santri dengan bukti nyata, bukan hanya dengan atribut.
Aktiflah di masjid, ikuti tadabbur Al-Quran, jaga sholat berjama’ah, ikuti
kegiatan tarawih, bahkan jika ada kesempatan, jadilah imam atau isi kultum.
Makmurkan masjid dengan kehadiran dan amal kalian," pesan Ustadz Arbani
dengan penuh semangat.
Setelah itu, Mudir Ma’had, Ustadz
Hendi Rakhmansya, dalam sambutannya mempertegas apa yang disampaikan Ust.
Arbani lalu memberikan pengumuman resmi mengenai jadwal libur. Beliau
menyampaikan bahwa libur santri dimulai pada hari Selasa, 29 Sya'ban 1447 H /
16 Februari 2026 M, dan para santri dijadwalkan kembali beraktivitas di pondok
pada hari Ahad, 10 Syawal 1447 H / 29 Maret 2026 M. "Manfaatkan waktu
libur yang panjang ini dengan sebaik-baiknya, khususnya untuk beribadah dan
bersilaturahmi dengan keluarga," ujar beliau.
Puncak Acara: Apresasi untuk Penulis Kalamullah
Puncak acara yang paling dinanti
adalah pemberian sertifikat penghargaan kepada 15 santri yang telah
menyelesaikan penulisan Al-Quran 30 juz dengan tangan mereka sendiri.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan Ma’had kepada para
santri.
Kelima belas santriwan dan santriwati yang berasal dari
kelas 4 dan 5 tersebut adalah:
- Hani
Ramadhani
- Muslimah
- Nurul
Asma Putri
- Qurratin
‘Ayunin
- Tsamaniyah
Istiqomah
- Arsinta
Lidiana Sari
- Aqila
Humaimah
- Silmi
Failasuf
- Ghaliz
Syida Muttamimah
- Kamilah
Istianah
- Siti
Zamhariroh
- Amira
Taslimah
- Afipah
- Indrajid
Ar-Rad Qafid
- Muhammad
Wildan
| ||
| Qurratin ‘Ayunin Silmi Failasuf Kamilah Istianah Muslimah Amirah Taslimah Aqilah Humaimah Arsinta Lidiana Sari Afipah Nurul Asma Putri Siti Zamhariroh Ghaliz Syida Muttamimah Tsamaniyah Istiqomah |
Inspirasi dari Pelopor
Kegiatan
Kegiatan penulisan Al-Quran ini
digagas oleh Ustadzah Siti Walijah, guru mata pelajaran Muthala’ah. Beliau
menceritakan pengalaman pribadinya, "Saya sendiri mengalami kebanggaan
luar biasa ketika mengkhatamkan tulisan Al-Quran sewaktu SD. Dan kebanggaan
terbesar datang dari ayah saya, Ustadz Arbani, saat beliau tahu saya
berhasil menyelesaikannya. Perasaan itulah yang ingin saya tularkan. Saya ingin
para orang tua juga merasakan bangga kepada anak-anaknya yang telah menulis
Kalamullah dengan tangan mereka sendiri."
Ustadzah Siti Walijah
kemudian memaparkan sederet harapan dari kegiatan penulisan Al-Quran ini.
"Kami berharap, dengan kegiatan menulis Al-Quran ini, tulisan para
santri menjadi semakin bagus dan indah. Selain itu, semoga santri
semakin dekat dengan Al-Quran karena mereka sering berinteraksi, tidak
hanya membaca tetapi juga menorehkan setiap hurufnya. Dengan kegiata, mereka
akan semakin sering membaca Al-Quran karena harus menuliskannya ke dalam buku,
sehingga interaksi dengan Al-Quran menjadi lebih intens. Yang terpenting, kami
ingin santri lebih mencintai Al-Quran, karena cinta lahir dari kedekatan
dan interaksi yang terus-menerus. Jika mereka mencintai Al-Quran, maka seluruh
kehidupan mereka akan diwarnai oleh nilai-nilai Al-Quran," paparnya.
Do’a Dan Harapan Dari Wali Kelas
Harbiyatul Muthmainnah,
selaku wali kelas 5, juga turut menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kegiatan
menulis Al-Quran adalah warisan para ulama terdahulu yang patut dihidupkan
kembali. "Alhamdulillah, kegiatan penulisan Al-Quran ini merupakan bagian
dari ta'zim kita terhadap Kalamullah. Dengan menulis, santri bukan hanya
melatih kerapian dan ketelitian, tetapi juga muraqabah (merasa diawasi Allah),
kesabaran, serta adab terhadap Al-Quran. Para ulama terdahulu pun menjaga
Al-Quran bukan hanya dengan hafalan, tetapi juga dengan tulisan.
Dalam wawancara, Ustadzah
Harbiyatul Mthmainnah juga menyampaikan harapannya, “Semoga kegiatan ini
menjadi sebab bertambahnya kecintaan santri kepada Al-Quran, menguatkan hafalan
dan bacaan mereka, serta menanamkan rasa bangga karena pernah menulis
Kalamullah dengan tangan sendiri. Semoga Allah menjadikannya amal jariyah dan
keberkahan bagi guru, santri, dan orang tua," ujarnya.
PENUTUPAN
Acara kemudian ditutup oleh
Ustadz Fikri Akbar dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai
kenang-kenangan. Dengan semangat baru dan bekal pesan-pesan mulia, para santri
pun bersiap menyambut Ramadan, membawa identitas sebagai pencinta Al-Quran di manapun
mereka berada.
Fitri Utami






0 komentar:
Posting Komentar