Peresmian Ma'had eL Islamiy

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto menyerahkan SK Mudir Ma'had kepada Ustadz Noviandi dalam acara Pembukaan Ma'had, pada hari Sabtu, tanggal 1 Muharam 1433 / 26 November 2011

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto (Pembina)

Didampingi Ustadz Wahadi (Ketua Umum) pada Pembukaan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa", Sabtu 1 Muharam 1433 H

Para Santri pada acara pembukaan

Pembukaan Ma'had el Islamiy " 'Aqu-lu el Muqoffa" pada Hari Sabtu, tanggal 1 Muharram 1433 H di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat

Hari Pertama didalam kelas

Santriwan yang sedang konsentrasi mendengar pengarahan hari pertama mereka didalam kelas

Pembukaan dan Peresmian Ma'had

Sabtu, 1 Muharam 1433 / 26 November 2012 di Gedung Auditorium Yayasan AKUIS Pusat diresmikan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa

Gedung Ma'had yang tampak kokoh

Gedung Ma'had dalam komplek Yayasan AKUIS Pusat yang terletak dipinggir Jalan Raya Palembang-Betung Km.14 dari Palembang

MASJID eL MUQOFFA

Masjid eL Muqoffa dengan dua lantai yang senantiasa dipenuhi dengan aktifitas ibadah, sholat berjama'ah, kuliah subuh, aktifitas santri dan lainnya.

GEDUNG MA'HAD

Gedung Ma'had dengan dua lantai sebagai wadah aktifitas belajar dan mengajar.

Selasa, 03 Februari 2026

PROGRAM PENDIDIKAN PESANTREN BERSKALA INTERNASIONAL

Muhammad Bardan Kindarto

(Yogyakarta, 11 Syawal 1355 H – Palembang, 7 Shafar 1438 H)

 

Dasar utama dari Al Qur-an

Perjalanan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah sunatullah. Sehingga, disadari atau tidak, Allah telah memberi perbekalan dari lahir berupa refleksi yang setiap saat ada pengaruh kepada keadaan lingkungan sekitarnya, yaitu simbiosis mutualisme dan mutual service. Secara manusiawi, setiap diri seseorang telah disempurnakan Allah dengan berbagai kemampuan, yaitu kemampuan mengenal dengan pancaindra (mudrik), kemampuan menggerakkan tubuh (muharik), dan kemampuan berdaya-guna bagi kepentingan masyarakat dan generasi (muatsir). Berkenaan dengan hal itu, Allah menetapkan melalui firman-Nya dalam Al-Quran surah Al-Anbiya, 21 : 105-107.

 

وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ  )١٠٥( إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ  )١٠٦( وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ )١٠٧(


“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.” (105). “Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (106). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (107).

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Quran itu mutlak sebagai pedoman dalam melaksanakan dimensi-dimensi pengabdian. Karena pada dasarnya manusia itu tidak berkeberadaan sama sekali, lalu Allah perintahkan utusan-Nya sebagai pembawa Risalah-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman-Nya, kemudian utusan tersebut memandukan segala aturan-Nya dalam menempati dimensi-dimensi pengabdian. Artinya, bagi hamba Allah yang beriman berkewajiban untuk mengelar Al-Quran atas umat manusia secara keseluruhan dalam rangka mendidik, mengajar berbagai ilmu tersebut ke dalam ilmu terapan, sehingga umat manusia akan memperoleh berbagai pengembangan dalam kehidupan ini tanpa harus berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat, sebagaimana difirmankan-Nya dalam surah Al-Maidah, 5 : 66, yaitu :

 

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ مِّنۡهُمۡ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ  )٦٦(


“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (66).

 

Ayat tersebut merupakan bukti bahwa sedikit sekali mereka yang termasuk dalam wilayah “sabiq bil khoirot” (QS Fathir, 35 : 32). Kenyataannya dalam kalangan mereka yang beriman kebanyakan tidak bernyali untuk menegakkan hukum Allah di tengah masyarakat yang serba plural atau disebut Islam moderat. Sedangkan golongan terbesar adalah orang-orang yang tidak beriman yang hanya mengandalkan logika dan tidak pernah mau tahu terhadap akhirat, mereka itu disebut kaum Hedonisme dan Logika (QS Ad-Dahr, 76 : 27). Maka betapa penting keberadaan program pendidikan melalui kepesantrenan dalam skala internasional dan mendunia.


Pandangan Pola Pendidikan Pesantren Berskala Mendunia

Dengan tanpa mengabaikan tentang kenyataan, bahwa pandangan terhadap lingkungan akan terbagi menjadi dua skala, yaitu nasional dan internasional. Karena sebagai tapakan awal Lembaga Pendidikan dan Keilmuan dalam pesantren-pesantren Islam yang masih lumpuh, dan ini juga termasuk lembaga pendidikan umum, harus diupayakan untuk menjawab berbagai perkembangan dan tantangan serta tuntutan-tuntutannya. Maka diperlukan sumber daya manusia yang memang benar-benar handal dalam menghadapai berbagai masalah tersebut.

 Dalam hal ini sebagian umat Islam masih menelantarkan pujian-pujian dalam Al Qur-an, disebabkan dari Da’inya yang masih kurang peka terhadap keadaan. Karena cara pemahaman mereka terhadap Al Qur-an hanya sebatas tekstual. Oleh karenanya penting memahami profil Lembaga Pendidikan Pesantren berskala Internasional :

A.    Dalam upaya mempunyai sasaran yang jelas, yaitu agar misi yang diemban harus terkait erat dengan kenyataan perkembangan keadaan masyarakat secara nasional dan internasional. Sebagai langkah awal dari metode ramuannya, dapat memanfaatkan “perilaku yang terkandung dalam Pancasila” dalam kepentingan memajukan dan memunculkan ide-ide panduan. Ini membutuhkan penjelasan yang bersifat khusus, karena apapun keadaannya, hal tersebut merupakan produk dan peninggalan umat Islam. Proses dimaksud sangat berkaitan erat dengan peristiwa Perjanjian Udaibiah dan pengerahan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi Tabuk sebagai pra-perjalanan menuju Futuh Makkatul Mukarramah.

B.    Dalam kenyataan kondisi sumber daya umat secara nasional ternyata mengalami keterbelakangan ganda, yaitu keterbelakangan dalam konteks bangsa dan global. Hal ini akan berakibat fatal manakala gong AFTA dipukul pada tahun 2020, yaitu suatu keadaan yang dapat memarjinalkan bangsa Indonesia sebagai akibat liberalisasi ekonomi di Asia Pasifik. Menghadapi hal demikian, selama dipaham secara logika, maka tidak ada jalan lain kecuali dibutuhkan kemampuan daya saing dalam percaturan global tersebut. Maka akan mencapai hasil yang relatif sangat kecil jika dihubungkan dengan kenyataan, yaitu berupa peningkatan berbagai kasus yang disengaja oleh bangsa-bangsa barat yang bertujuan untuk mengadakan tekanan-tekanan terhadap upaya-upaya pengembangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, bila ditelaah secara seksama berdasarkan petunjuk Al Qur-an, maka jalan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah harus melaksanakan suatu pembinaan sumber daya manusianya, yang meliputi aspek keulamaan, aspek intelektual, aspek pengembangan, dan aspek manajemen organisatoris.

C.    Muslim adalah sebagai subjek, berarti manusia sebagai sasaran utama dalam kaitannya dengan masalah tujuan pendidikan tersebut dibangun, sehingga akan memberi nilai tambah insani dalam makna hubungan antarbangsa di dunia. Sedangkan masalah ekonomi dan teknologi itu sekedar bertujuan untuk mengantarkan kepada kenyataan yang bersifat Islami. 

 

Dari penjelasan tersebut, maka akan memberikan makna terhadap definisi Pendidikan Skala Internasional itu sendiri, yaitu upaya menanamkan, menumbuhkan, menyuburkan, dan mengembangkan makna pengabdian tiga dimensi secara proporsional. Dengan definisi tersebut berarti pendidikan menuntut kemampuan dalam mengantasipasi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat di berbagai bangsa termasuk masalah peradaban.

Dalam pembeberannya, masalah pendidikan yang berskala internasional tersebut harus mempersiapkan diri dalam menghadapi beberapa tantangan, antara lain :

A.    Tantangan tentang kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan masa depan. Menghadapi hal tersebut adalah bukan tidak mungkin, apabila dihadapkan dengan berbagai kemajuan dunia ilmu dan tehnologi, disadari atau tidak secara pasti akan menguras pemusatan perhatian terhadap proses tadabbur Al Qur-an dan menyempurnakan kembali pemahaman terhadap Al Hadits Shahih, adalah pengendali bagi perjalanan dan kiprah umat manusia di segala zaman sampai akhir zaman. 

B.    Tantangan di bidang kemampuan untuk menghasilkan para lulusan yang berkualitas. Dalam hal ini adalah bertujuan untuk memperkuat dalam upaya menjadi Muttabi’ur rasul, sehingga program kemanusiaan senantiasa menjadi program unggulan, dalam rangka membangun Khilafah di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan janji Allah.

C.    Tantangan dalam hal upaya. Apapun dan betapapun keadaan yang mungkin terjadi merupakan medan yang sangat berat di tengah-tengah gejolak perubahan dan globalisasi, namun wajib mengaktualisasikan misi Islam. Hal tersebut adalah bagian dari jihad yang sangat mulia.

D.    Tantangan berupa upaya pelestari yang di dalamnya menuntut kemampuan keberhati-hatian dan kerapian dalam memproses agar benar-benar berlandaskan kepada Al Qur-an dan Al Hadits yang shahih. Karena apapun alasannya maka secara nurani umat manusia sedunia mendambakan buah bukti dari makna Islam, yaitu pemersatu dan pembawa kepada Rahmatan lil ’Alamin.

 

Untuk selanjutnya, yang menjadi dambaan umat manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam, adalah lahirnya tokoh-tokoh dunia yang berkualitas, kokoh, dan kukuh dalam berpedoman kepada Al Qur-an dan Al Hadits Shahih.

 

Sehingga dalam mengadakan pendidikan pesantren yang berskala Internasional, harus dapat mengupayakan bagi terwujudnya generasi yang berkemampuan dalam penguasaan dan pengembangan terhadap ilmu/bidangbidang keilmuan kemudian berkemam-puan secara profesional dalam mengentaskan kepada realitas kehidupan masyarakat di seluruh bangsa-bangsa di dunia, terutam dalam hal wawasan dan perilaku serta ilmu terapan. Dengan demikian akan berkemampuan membawa pengaruh terhadap umat dalam segala kiprah kerja yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan.

 

Al Qur-an sendiri telah menyediakan bimbingan dan panduan serta petunjuk yang sangat sempurna dengan ayat-ayatnya Insaniyah (masalah perilaku), Kauniyyah (masalah rahasia sumber daya alam), Tarikhiyyah (masalah sejarah manusia dan kemanusiaan), dan Taqorrub/Ubudiyyah (masalah hubungan dan pendekatan kepada Allah Yang Maha-Pencipta). Bahkan lebih dari itu, Al Quran telah Allah tetapkan di dalamnya berisikan liputan empat tingkatan ilmu, yaitu tingkatan eksak, tingkatan abstrak, tingkatan relatif abstrak, dan tingkatan absolut abstrak. 

 

Dengan demikian sudah semestinya bagi setiap muslim berkewajiban mempunyai rasa terpanggil dan dituntut keikutsertaannya dalam membangun pendidikan kepesantrenan yang berskala dunia. Mengingat petunjuk Allah untuk mendukung ketetapan sunatullah tentang keberadaan masyarakat manusia yang berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah, sehingga masalah kemanusiaan sebagai topik utama Al Qur-an (QSAl Hujurat, 49 : 13) :

A. Allah telah menetapkan bahwa umat mukminin adalah sebagai “Khoiro Ummah” sebagaimana difirmankan dalan Surah Ali Imron, 3 : 110 :

 

كُنتُمۡ خَيۡرَ أمَُّةٍ أخُۡير جَتۡ ليلنَّا يس تأَمُۡرُونَ بيٱلمَۡرُو يف وَتَنۡهَوۡنَ عَ ين ٱلمُۡنكَ ير  وَتؤُۡ يمنوُنَ بيٱللَّّيِۗ وَلوَۡ ءَامَنَ أهَۡل

ٱلۡ يكتَ يبَّٰ لَكََنَ خَيۡرٗا لهَُّمۚ ذيمنۡهُمُ ٱلمُۡؤۡ يمنوُنَ وَأكَۡثََهُُمُ ٱلۡفََّٰ يسقُونَ ) ١١٠ (


 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (110).


Secara maknawi ayat tersebut memberikan ketegasan bahwa mukmin itu adalah sebagai manusia subjek, artinya pemimpin asli atau informal leader atau indigenous leader, yang di dalam bahasa Hadits, Rasulullah menyebutkan dengan istilah “ra’un”, yaitu yang mempunyai tugas dan tanggung jawab keumatan untuk menegakkan kemanusiaan yang utuh. 

 B. Dalam upaya keumatan melaksanakan pengkondisian terhadap generasi melalui berbagai bimbingan menuju perwujudan nilai kemanusiaan dalam pengertian peradaban yang benar, membawa dan memindahkan umat dari kegelapan kepada cahaya iman yang terang benderang. Kemudian membuka kemajuan dunia, kesemuanya tersebut dilakukan secara bersamaan dengan berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al Qur-an Surah Fushilat, 41 : 34-35, yaitu :

 

وَلََّ تسَۡت يوَي ٱلَۡۡسَنَةُ وَلََّ ٱلسَّ ذييئَةُُۚ ٱدۡفَعۡ بيٱلَّ يتِ يهَِ أحَۡسَنُ فإَيذَا ٱ يلَّي بيَنۡكََ وَبَيۡنهَُۥ عَدَوََّٰةٞ كَأَنهَُّۥ وَ ي يل  حَۡييمٞ)٣٤ (وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا  يلُقََّىهََّٰ آ إيلََّّ ذُو حَ ذظٍ عَ يظيمٖ )٣٥(


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (34). “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (35).


 Hal tersebut sangat penting dikarenak untuk menghadapi kafirin yang berada pada kondisi yang disebut krisis manusia modern, yang dapat mengancam nilai kemanusiaan, sebagai akibat dari kegoncangan jiwa dan kekosongan ‘aqidah. Ini akan terbukti dalam menghadapi apa yang disebut Era Globalisasi, bahwa globalisasi adalah proses interaksi yang mendunia yang muncul akibat terjadinya revolusi iptek yang senantiasa mengalami perkembangan. Sehingga akan merupakan era kompetitif dalam seluruh bidang kehidupan yang disertai dengan tingkat persaingan yang tinggi. Dan secara kenyataan akan membuat setiap individu dapat berkomunikasi dan berinteraksi relatif bebas. Maka ayat tersebut menuntut kecermatan dalam menelaah secara kaidah ilmu Al Qur-an agar menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang menjadi dasar utama bagi menyempurnakan beberapa cabang ilmu termasuk ilmu komunikasi.

 

Maka dengan pola Pendidikan Pesantren yang berskala Internasional tersebut merupakan dapur pemikiran dalam kepentingan sebagai pusat kajian terhadap

Al Islam, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ulama, dan generasi. Untuk selanjutnya akan melahirkan ‘Ulama intelektual yang memiliki kematangan intelektual (inteliectual maturity) dan kepribadian utuh (personal organization), yang akan bertindak sebagai pemandu masyarakat dunia.


Hal tersebut sangat beralasan mengingat bahwa Al Qur-an mengajarkan dalan Surah Al Imron, 3 : 68 : 

 

إينَّ أوَۡلَ ٱلناَّي س بيإيبرَۡ يهَّٰيمَ ل يلَََّّينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَذََّٰا ٱلن يبَُِّّ وَٱ يلَّينَ ءَامَنوُِۗاْ وَٱللَُّّ وَ يلُّ ٱ لمُۡؤۡ يمنيينَ  )٦٨ (


 “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (68).

 

Tentang Kurikulum

Dalam pembuatan suatu rencana umum yang berkaitan denga bahan-bahan yang bersifat khusus tentang pelajaran yang akan disajikan untuk mengantar dan memberi pembekalan kepada santri sehingga mereka akan mendapatkan tanda bukti lulusan atau sempurna sebagai santri berupa sertifikat untuk memperoleh kemampuan dalam berbagai kepentingan ummat sesuai dengan petunjuk dan tuntutan Islam. Karena itu harus meliputi “intracurricular dan extracurricular”. Yang perlu diketahui bahwa kurikulum yang ditetapkan dalam pesantren tersebut harus ada saling keterkaitan, disebabkan bertujuan untuk mencetak informal-leader, yang dalam Al Hadits disebut “Ra’un”, dalam suatu perencanaan “core curriculum”, yaitu satu kelompok mata pelajaran dijadikan sebagai pusat atau inti dan akan membangun rasa ketergantungan dan menunjukkan hubungan dengan yang tersebut.

 

Sebenarnya curriculum yang berarti “jalan”, yang penyajiannya adalah pengantar bagi pembinaan yang berujung untuk kepentingan karier hidup. Oleh karena itu, dalam pendidikan pesantren yang berskala internasional di samping masalah keilmuan diperlukan faktor-faktor lain yang dapat mendukung bagi pembangunan sumber daya manusia yang utuh paripurna dan berdaya guna dalam berbagai kepentingan yang terkait dengan masalah keumatan dilandasi dengan Ad Din Al Khoslish, agar tidak mengambil selainnya apapun alasannya. Karena masalah pendidikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb sebagaimana dituntutkan Al Qur-an Surah Az-Zumar, 39 : 3, yaitu :

 

أَلََّ يللَّّي ٱ ذيلينُ ٱلۡۡاَليصُُۚ وَٱ يلَّينَ ٱتََّّذَُواْ يمن دُون ييهۦٓ أوَۡ يلََاءَٓ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إيلََّّ يلَقَُ ذيربوُنآَ إيلََ ٱللَّّي زُلۡفََٰٓ إينَّ ٱللََّّ يََۡكُمُ

بيَۡنهَُمۡ يفِ مَا هُمۡ يفيهي يََۡتلَيفُونَِۗ إينَّ ٱللََّّ لََّ يَهۡ يدي مَنۡ هُوَ كَ يذَّٰبٞ كَفَّارٞ  )٣(


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Ad-Din yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata),  “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."  Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (3).

 

Ayat tersebut diambil bagian sudut di antara jurusannya adalah masalah program pendidikan, karena Allah telah memberikan petunjuk-Nya, antara lain:


A. Dalam Surah An Nisa 9 :

 

 وَلََۡخۡشَ ٱ يلَّينَ لوَۡ ترََكُواْ يمنۡ خَلۡ يف يهمۡ ذ ذيرُيَّةٗ يضعَفًَّٰا خَافوُاْ عَلَيۡ يهمۡ فَلۡيتََّقُواْ ٱللََّّ وَلََۡقُول وُاْ قَوۡلَّٗ سَ يديدًا  )٩(

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”


 B. Dalam Surah Maryam, 19 : 5-6, Nabi Zakaria menyampaikan keprihatinannya terhadap generasi dan pernyataannya diterangkan dalam ayat tersebut, yaitu :

 

وَإِ يذنّ يخفۡتُ ٱلمَۡوَ يلَََّٰ يمن وَرَاءٓيي وَكََن يتَ ٱمۡرَأ يتَِ عََقيرٗا فَهَبۡ يلَ يمن لَُّنكَ وَي  ذلَٗا  )٥( ي يرَث ينُِ وَيَ يرثُ يمنۡ  ءَا يل يَعۡقُوبَٞۖ وَٱجۡعَلۡهُ ر ذيب ر يضَ ذيٗا  )٦(


“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau     seorang putra.” (5). “Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridlai.” (6).

 

Dengan demikian maka berarti betapa penting tentang keberadaan kurikulum yang rapi, baik, dan benar, sehingga dengan itu akan berarti telah mempersiapkan metode pendidikan secara memadai.-

 

 

Banyuasin, Sumatera Selatan

Tanggal     :   17 Syawal 1426 H

                      17 Januari 2006 M

Kamis, 29 Januari 2026

AHWA Dunia, Menakhodai Kapal Persatuan di Tengah Arus Global

Eksistensi umat Islam di kancah global hari ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan jumlah penganut yang besar. Diperlukan sebuah mekanisme kepemimpinan intelektual yang mampu menyatukan hati (tansiqul-qalbi) dan gerak secara terukur/shaffan. Semangat inilah yang melandasi Sosialisasi Perhimpunan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Dunia pada Senin 30 Rajab 1447 H/19 Januari 2026 yang lalu di Jakarta.

Pertemuan di Villa Delima tersebut bukan sekadar persiapan teknis menuju Mudzakarah Ke-9, melainkan penegasan kembali atas mandat internasional yang telah digulirkan sejak 2016.

Soliditas Lokal sebagai Syarat Globalitas

Menarik untuk mencermati catatan Ustadz Drs. Hasan Basri Rahman. Beliau memberikan perspektif yang membumi: bahwa visi global yang megah harus memiliki "jangkar" yang kuat di tingkat lokal. Strategi AHWA bukanlah gerakan elit yang eksklusif, melainkan sebuah ikhtiar yang memulai sinkronisasi visi dari bawah agar bangunan ukhuwah di tingkat dunia tidak keropos.

Pesan beliau jelas, bahwa: persatuan global hanya bisa dicapai jika ulama di tingkat basis sudah berada dalam satu barisan pemikiran yang sama. Inilah fondasi bagi struktur AHWA yang kokoh.

Meluruskan Kompas Akidah Dunia

Tantangan nyata AHWA di level internasional juga ditegaskan oleh Ustadz Ahmad Kainama. Dengan menganalogikan AHWA sebagai "Al-Fulk" (Kapal), bahwa beliau memposisikan lembaga ini sebagai instrumen penyelamat di tengah badai pemikiran dunia.

Melalui tema strategis "Millah Ibrahim atas Pewarisan Ahli Kitab", AHWA mengambil peran sebagai penjaga gawang akidah. Di panggung dunia di mana identitas Islam sering kali dikaburkan, AHWA hadir untuk memberikan pencerahan bahwa Islam adalah satu-satunya Ad-Dien yang diridhai Allah. Ini adalah peran diplomasi teologis yang sangat krusial di kancah internasional.

Menuju Mudzakarah Ke-9: Diplomasi Ulama untuk Dunia

Perhelatan yang dijadwalkan pada Dzulhijjah 1447 H mendatang adalah momentum pembuktian. AHWA tidak sedang membangun menara gading; ia sedang menjahit ukhuwah yang membentang dari lokal hingga ke forum-forum dunia.

Jika sosialisasi ini berhasil menanamkan kesadaran kolektif, maka Mudzakarah Ke-9 tidak hanya akan menjadi ajang berkumpulnya para tokoh, tetapi akan menjadi kompas baru bagi peradaban Islam global. "Api" yang menyala di Jakarta kemarin harus dipastikan mampu membakar semangat persatuan para ulama dan intelektual muslim di seluruh penjuru bumi.

Minggu, 25 Januari 2026

Jalin Ukhuwah: Keseruan Laga Persahabatan Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa vs Ponpes Tahfiz Nurul Quran

 

Suasana di lapangan Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa Al-Islamiy sore ini tampak berbeda. Bukan riuh hafalan kitab atau kultum yang terdengar, melainkan sorak sorai semangat persaudaraan dalam laga persahabatan futsal santri yang digelar pada Ahad, 6 Sya’ban 1447 H/25 Januari 2026 M.

Penyambutan Hangat

Tepat pukul 14.30 WIB, rombongan dari Ponpes Tahfiz Nurul Quran tiba di lokasi dan langsung disambut hangat oleh para pengurus serta santri tuan rumah. Acara dibuka secara resmi pada pukul 15.00 WIB dengan sambutan dari M. Rusdan Baldan (Abang Didan) selaku Ketua Pelaksana, serta sambutan Kak Ade sebagai pembimbing sekaligus mudaris dari Ponpes Tahfiz Nurul Quran.

"Pertandingan ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal bagaimana kita mempererat tali silaturahim antar santri," ujar Abang Didan dalam wawancara.

Jeda Ibadah & Kick Off yang Seru

Setelah melaksanakan sholat Ashar berjama’ah di masjid untuk mengisi "bahan bakar" spiritual, peluit tanda dimulainya pertandingan akhirnya ditiup pada pukul 16.00 WIB. Di bawah pengawasan Asad Fahmi Al-Faruq sebagai penanggung jawab acara, pertandingan berlangsung sangat kompetitif namun tetap sportif.

Laga dibagi menjadi dua sesi:

  1. Tingkat Junior (Kelas 7–9): Pertandingan berlangsung sangat sengit. Kejar-kejaran skor terjadi, namun Tim Ponpes Tahfiz Nurul Quran berhasil unggul tipis dengan skor akhir 4-3.
  2. Tingkat Senior (Kelas 10–13): Di sesi kedua, dominasi Tim Ponpes Tahfiz Nurul Quran semakin terlihat. Meski tuan rumah memberikan perlawanan maksimal, tim tamu sukses mengamankan kemenangan telak dengan skor 8-3.
Lebih dari Sekadar Pertandingan

Meski tim tamu memenangkan kedua laga, raut wajah ceria tetap terpancar dari seluruh santri. Acara ditutup pada pukul 17.30 WIB dengan sesi jabat tangan dan foto bersama yang penuh keakraban.

Laga persahabatan ini diharapkan menjadi wasilah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, khususnya antar pondok pesantren. Semoga semangat sportivitas dan persaudaraan ini terus terjaga.

Sampai jumpa di pertandingan selanjutnya!

Selasa, 20 Januari 2026

Penerimaan Santri Baru Ma’had ‘Aqu-lu el Muqoffa Al Islamiy

Pendaftaran Santri Baru

Bismillahirrahmanirrahim

Anak adalah amanah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dititipkan kepada setiap orang tua. Menjaga dan mendidik mereka agar tumbuh di atas pondasi iman, ilmu, dan amal shaleh adalah tanggung jawab bersama yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Ma’had ‘Aqu-lu el Muqoffa Al Islamiy hadir sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS yang menyadari akan amanah tersebut. Kami berkomitmen menyediakan lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi Aqidah dan Akhlaqul Karimah yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

I. Persyaratan Calon Santri

Kami membuka pendaftaran bagi calon santri yang memenuhi kriteria berikut:

Rentang Usia: Minimal 13 tahun hingga maksimal 15 tahun.

Komitmen: Bersedia mengikuti aturan Ma’had yang dituangkan dalam surat perjanjian santri dan orang tua.

II. Prosedur Pendaftaran Langsung

Untuk menjaga kualitas interaksi dan pengenalan lingkungan Ma’had, pendaftaran hanya dilayani secara langsung di lokasi (Offline):

Lokasi: Kantor Ma’had Al Islamiy Aqu-lu el Muqoffa di Jalan Palembang – Betung No.84, Komp. Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS Pusat, RT.011 RW.002 KM.14, Sukajadi Timur, Kec. Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan 30961.

Dokumen: Membawa fotokopi Ijazah SD dan Kartu Keluarga (masing-masing 1 lembar).

Administrasi: Pengisian formulir pendaftaran serta penandatanganan surat perjanjian dilakukan langsung di lokasi.

III. Estimasi Pembiayaan Awal

Biaya pendaftaran sudah mencakup Infaq Pendidikan, perlengkapan mess, seragam lengkap (Harian, Olahraga, Bela Diri, Kepanduan, Almamater), serta biaya makan, asrama, dan operasional untuk 2 bulan pertama.

Total Putra: Rp 8.215.000,-

Total Putri: Rp 8.210.000,-

Informasi & Layanan Pendaftaran

Pendaftaran dilakukan secara langsung dengan mengunjungi kantor sekretariat kami pada jam kerja. Untuk konsultasi lebih lanjut terkait program pendidikan, Bapak/Ibu dapat menghubungi layanan informasi resmi lembaga:

Alamat Lokasi: Jalan Palembang – Betung, No.84, Komp. Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS Pusat, RT.011 RW.002, KM.14, Sukajadi Timur, Kec. Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan 30961.

Kontak Person (WA/Telp): +62 813-6882-5307

Email: bidangpendidikanypdakuis@gmail.com

Informasi Teknis: Konsultasi langsung di lokasi dapat ditemui melalui Sekretaris Bidang Pendidikan: Ust. Ahmad Ulya Qomaru Zaman.

Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam membekali putra-putri kita dengan ilmu yang bermanfaat.

Sabtu, 17 Januari 2026

KURIKULUM MA’HAD ‘AQU LU EL-MUQOFFA AL-ISLAMIY

Pondok Pesantren Berskala Internasional


Visi Sang Perintis

Pada 17 Syawal 1426 Hijriyah, bertepatan dengan 17 Januari 2006, di tanah Banyuasin, sebuah gagasan visioner ditorehkan oleh Ustadz Muhammad Bardan Kindarto. Tulisan beliau yang berjudul “Program Pendidikan Pesantren Berskala Internasional” menjadi landasan sekaligus peta jalan bagi sebuah institusi pendidikan yang bercita-cita melampaui batas-batas geografis dan kurikulum konvensional. Gagasan ini bukan hanya wacana; ia adalah do’a dan harapan dari seorang ‘ulama yang tawadhu’.

Cita-cita besar itu menemukan momentum realisasinya pada Sabtu, 1 Muharram 1433 H (26 November 2011 M). Ditandai dengan pembubaran Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ‘Aqulu eL Muqoffa (1997-2011), berdirilah Ma’had Al-Islamiy ‘Aqu Lu El Muqoffa. Nama “Ma’had” dipilih dengan kesadaran penuh akan maknanya dalam bahasa Arab: Perguruan Tinggi (Islamic Institute/College/Academy/University). Ini adalah deklarasi bahwa lembaga ini bukan sekadar sekolah menengah, melainkan sebuah sistem pendidikan tinggi integral yang berlangsung selama 13 tahun yang mengatur, mendidik, dan menjaga (liputan Rabb) santri dari usia 12 hingga 25 tahun.

Misi: Melahirkan Pemimpin Solutif bagi Umat

Pendidikan Pesantren Berskala Internasional di Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa dimaknai sebagai pendidikan keislaman berwawasan mendunia, mencakup program, kurikulum, tenaga pengajar, dan peserta didiknya. Visinya terpilar pada dua hal utama:

    1. Pemimpin Berkaliber Dunia sebagai Al-Mursyid: Sebagai pemandu umat yang menguasai berbagai disiplin ilmu (multitasking), menjadi rujukan bagi setiap permasalahan umat.
    2. Pemimpin Berkaliber Dunia sebagai Ahli Profesional: Sebagai spesialis di bidang ilmu tertentu (monotasking) yang mendalam dan unggul.

Kedua profil ini disatukan oleh prinsip fundamental: Al-Hikmah (cerdas, cepat, tepat, dan cakap menanggapi permasalahan umat). Lulusan Ma’had dirancang untuk menjadi “pemberi solusi” (problem solver)—sebagai leader solutif, visionary leader, dan transformational leader—yang mampu menjawab tantangan kompleks zaman dengan pendekatan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Inilah yang tercermin dalam moto pendirianya: “Pemimpin asli yang ilmiah, diniah, dan kritis” (The critical scientific and religious genuine leader).

Kerangka Kurikulum 13 Tahun: Sebuah Siklus Holistik dari Belajar hingga Mengabdi

Keunikan dan kekuatan kurikulum Ma’had terletak pada pembagian jenjang 13 tahunnya yang tidak lazim, berpijak pada psikologi perkembangan yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

I. Landasan Psikologis dari Al-Qur’an
Kurikulum ini sensitif terhadap fase perkembangan psikologis santri:

    • Fase Ghulam (Usia 12-16 Tahun): Fase anak-anak hingga remaja awal. Pendekatan pendidikan bersifat nurturing (penuh kasih), dengan metode pengajaran langsung (directive), penghafalan cerdas (smart retain), pemodelan (modeling), dan interaktif. Fokus pada penanaman dasar-dasar aqidah dan akhlak.
    • Fase Fata/Syabab (Usia 16-30 Tahun): Fase pemuda hingga dewasa. Di tingkat ini, materi pembelajaran lebih lanjut (advanced) dan mulai diperkenalkan metode berpikir kritis (critical thinking), inkuiri, dan pembelajaran dua arah (two-way learning). Santri diajak untuk lebih aktif mengelola proses belajarnya.

II. Tiga Periode Pendidikan yang Revolusioner:
Pembagian kelas tidak mengikuti standar SMP/MTs-SMA/MA, melainkan berdasarkan misi pembentukan karakter dan kompetensi:

    1. Kelas 1-6: “Educational Period” (Masa Belajar/Mengajar, Usia 12-18 Tahun).
        • Fokus: Menanamkan pondasi kokoh pada semua materi dasar keislaman (Akhlak, Al-Qur’an, Hadits, Bahasa Arab, Fikih) dan ilmu umum (Bahasa, Sains, Sosial).
        • Pendekatan: Menggunakan konsep Ghulam. Santri berada dalam masa “dipimpin” untuk membangun disiplin dasar.
    2. Kelas 7-10: “Period of Leadership” (Masa Zu’ama/Kepemimpinan, Usia 18-22 Tahun).
        • Fokus: Pendalaman dan spesialisasi. Materi keislaman seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fikih, Balaghah, Tata Dakwah, dan Siyasah, dan penamatan membaca kitab. Ilmu umum seperti Psikologi, Sosiologi, dan Ekonomi dikaji lebih analitis.
        • Pendekatan: Menggunakan konsep Syabab. Santri memasuki masa “memimpin”. Mereka ditugaskan memimpin diskusi, membimbing adik kelas, mengorganisir kegiatan, dan memulai program riset awal. Di sini, teori mulai diuji dengan tanggung jawab praktis.
    3. Kelas 11-13: “Period of Service” (Masa Pengabdian, Usia 22-25 Tahun).
        • Fokus: Aplikasi dan kontribusi nyata. Santri mempraktikkan ilmu yang telah dikuasai dalam bidang spesifik: Bidang Pendidikan, Bidang Dakwah, atau Kepengurusan yayasan. Masa ini adalah kulminasi dari 10 tahun sebelumnya, dimana mereka menjadi bagian aktif dari sistem dengan menyelesaikan program riset/penelitian dan berkontribusi langsung pada institusi dan masyarakat.

Siklus Belajar → Memimpin → Mengabdi ini adalah jantung dari kurikulum Ma’had, yang membedakannya secara kontras dari model pendidikan “sekadar lulus ujian”.

44 Mata Pelajaran: Jaring Pengetahuan yang Menyeluruh

Untuk mewujudkan profil pemimpin multidisiplin, Ma’had merancang kurikulum yang sangat komprehensif, mencakup 44 mata pelajaran yang diajarkan secara bertahap dan terintegrasi dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Mata pelajaran ini dirumpunkan menjadi:

    1. Ushuluddin (14 Mapel): Meliputi Aqidah, Akhlak, berbagai aspek Ilmu Al-Qur’an (Tajwid, Hafalan, Terjemah, Ilmu Tafsir), Hadits (Riwayat, Dirayah, Hafalan), Fikih (Furu’ dan Ushul), hingga ilmu terapan seperti Siyasah, Tata Dakwah, dan Adab Berdebat.
    2. Sejarah (3 Mapel): Sejarah Islam, Indonesia, dan Dunia untuk membangun kesadaran kontekstual.
    3. Bahasa (9 Mapel): Penguasaan Bahasa Arab secara menyeluruh (Muhawarah, Insya’, Nahwu-Sharaf, Balaghah) serta Bahasa Inggris dan Indonesia.
    4. Psikologi & Pendidikan (4 Mapel): Ilmu Jiwa, Ilmu Pendidikan, Ilmu Mengajar, dan Praktik Mengajar, mempersiapkan santri juga sebagai pendidik.
    5. Sosiologi & Kemasyarakatan (3 Mapel): Ilmu Masyarakat, Sosiologi, dan Ilmu Rumah Tangga.
    6. Ilmu Pasti & Sains (11 Mapel): Cakupan yang sangat luas, mulai dari Falak (Astronomi), Kimia, Biologi, Pertanian, Matematika, Geografi, Ekonomi Islam, hingga Laboratorium dan Praktikum.
    7. Pendidikan Jasmani (1 Mapel).

Ekstrakurikuler dan Sarana Prasarana: Menyempurnakan Proses Tarbiyah

Agar perkembangan santri seimbang, Ma’had menyediakan beragam program ekstrakurikuler yang bersifat refreshing sekaligus pengembangan skill, seperti olahraga (beladiri, memanah, renang), seni (kaligrafi, musik), kepanduan, kewirausahaan, multimedia, klub bahasa, hingga forum kajian kitab, diskusi ilmiyah dan debat (mabhatsul masail).

Visi internasional ini juga didukung oleh infrastruktur yang dirancang untuk mendukung semua aspek pembelajaran, mulai dari Masjid, Perpustakaan, Gedung Belajar, Asrama terpisah, hingga fasilitas pendukung khusus seperti:

    • Laboratorium Bahasa
    • Observatorium Falak (untuk ilmu falak/astronomi)
    • Laboratorium IPA
    • Gedung Multimedia
    • Area perkebunan dan peternakan sebagai laboratorium lifeskill dan ketahanan.

Jalan Menuju Internasionalisasi: Strategi dan Komitmen

Untuk mewujudkan skala internasional, kurikulum tidak hanya berhenti pada narasi. Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa merancang strategi operasional yang jelas:

    1. Integrasi Ilmu: Menyatu-padukan ushuluddin dan ilmu umum.
    2. Lingua Franca: Menjadikan Bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar dan komunikasi sehari-hari.
    3. Referensi Global: Menggunakan sumber belajar berbahasa asing.
    4. Kerjasama Ahli: Membuat MoU dan mendatangkan native speaker serta ahli dari berbagai bidang sains dan teknologi.
    5. Jaringan Global: Mensosialisasikan program ke seluruh dunia melalui media digital dan jaringan ulama (Perhimpunan Ahlul Halli wal ‘Aqdi Dunia) untuk menarik santri dari berbagai negara.
    6. Pemanfaatan Teknologi: Mengadopsi teknologi terkini dalam proses pembelajaran dan administrasi.

Penutup: Mandiri dalam Visi, Universal dalam Kontribusi

Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa Al-Islamiy dengan tegas menyatakan kemandiriannya. Kurikulum 13 tahun dengan tiga periodenya adalah sebuah ekosistem pendidikan yang utuh dan otonom, tidak disamakan dan tidak berafiliasi dengan sistem pendidikan nasional atau internasional umum lainnya. Ia hadir dengan paradigma sendiri yang dibangun dari tadabbur Al-Qur’an dan Sunnah.

Pada akhirnya, “standar internasional” yang ingin dicapai bukanlah sekadar pengakuan dari badan dunia, melainkan kapasitas untuk berkontribusi dan memimpin di panggung dunia. Visinya adalah melahirkan kader-kader pemimpin asli, ilmiyah, diniyah, dan kritis sebagai “amanah generasi“, penyambung mata rantai perjuangan Islam, yang mampu memberikan solusi (Al-Hikmah) bagi permasalahan umat di mana pun mereka berada dan menjadi generasi yang dirindukan zaman.

 


Keterangan: Artikel ini disusun berdasarkan dokumen konsep “Program Pendidikan Pesantren Berskala Internasional” karya Ustadz Muhammad Bardan Kindarto dan penyempurnaan oleh P3SP (Tim Perancang Pembuat Pengamat Sistem Pendidikan) Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa Al-Islamiy, dilandaskan pada panduan Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai sebuah sistem yang hidup, kurikulum ini bersifat dinamis dan terbuka untuk terus disempurnakan oleh generasi kader Ma’had di masa depan.

 

Pererat Ukhuwah, Jama’ah dan Santri YPD AKUIS Pusat Laksanakan Gotong Royong Cor Jalan


Semangat berjama’ah terpancar di Lingkungan Komplek YPD AKUIS Pusat selama tiga hari terakhir. Sejak Rabu hingga Jumat (14–16 Januari 2026), puluhan jamaah, pengurus yayasan, hingga santri bahu-membahu dalam agenda besar: Pengecoran Jalan Komplek YPD AKUIS Pusat Part 2.

Kegiatan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan wujud nyata dari hasil Musyawarah Jamaah yang telah disepakati pada Agustus 2024 lalu.

Pengecoran jalan sepanjang 50 meter dengan lebar 5 meter ini dikoordinatori oleh Bagian Kerumahtanggaan, Pakde Nyono, dengan dukungan teknis dari Urusan Pembangunan, Bapak Yayat Suryat dan Bapak Suhardiman (Yai Diman).

Satu hal yang mencuri perhatian adalah keterlibatan aktif para santri. Sebagaimana kebiasaan di YPD AKUIS, santri selalu ditempa untuk menjadi garda terdepan dalam setiap kegiatan sosial yayasan, baik di pusat maupun cabang. "Santri bukan hanya belajar di kelas, tapi juga belajar mengabdi kepada masyarakat. Di sini, mereka menunjukkan bahwa pemuda adalah mesin penggerak utama setiap kegiatan yayasan,".

Meski menggunakan bantuan satu unit mesin molen untuk mempercepat proses, tenaga manusia tetap menjadi kunci. Sebanyak 150 sak semen berhasil diolah dan dihamparkan untuk memperkokoh akses jalan di lingkungan komplek.

Menariknya, suasana kerja bakti ini terasa sangat hangat berkat dukungan dari para ibu-ibu komplek. Tanpa dikomando, mereka menyediakan aneka makanan dan minuman ringan (snack) sebagai penambah semangat bagi mereka yang bekerja di lapangan.

Pihak pengurus menyatakan bahwa tidak ada target kaku untuk penyelesaian proyek ini. Namun, melihat progres yang masif selama tiga hari ini, mereka optimis seluruh bagian jalan akan segera rampung dan dapat digunakan dengan nyaman oleh jamaah maupun warga sekitar.

(Andey Agusti Sisika)