Peresmian Ma'had eL Islamiy

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto menyerahkan SK Mudir Ma'had kepada Ustadz Noviandi dalam acara Pembukaan Ma'had, pada hari Sabtu, tanggal 1 Muharam 1433 / 26 November 2011

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto (Pembina)

Didampingi Ustadz Wahadi (Ketua Umum) pada Pembukaan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa", Sabtu 1 Muharam 1433 H

Para Santri pada acara pembukaan

Pembukaan Ma'had el Islamiy " 'Aqu-lu el Muqoffa" pada Hari Sabtu, tanggal 1 Muharram 1433 H di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat

Hari Pertama didalam kelas

Santriwan yang sedang konsentrasi mendengar pengarahan hari pertama mereka didalam kelas

Pembukaan dan Peresmian Ma'had

Sabtu, 1 Muharam 1433 / 26 November 2012 di Gedung Auditorium Yayasan AKUIS Pusat diresmikan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa

Gedung Ma'had yang tampak kokoh

Gedung Ma'had dalam komplek Yayasan AKUIS Pusat yang terletak dipinggir Jalan Raya Palembang-Betung Km.14 dari Palembang

MASJID eL MUQOFFA

Masjid eL Muqoffa dengan dua lantai yang senantiasa dipenuhi dengan aktifitas ibadah, sholat berjama'ah, kuliah subuh, aktifitas santri dan lainnya.

GEDUNG MA'HAD

Gedung Ma'had dengan dua lantai sebagai wadah aktifitas belajar dan mengajar.

Senin, 09 Februari 2026

Pemuda Gelar Musyawarah Persiapan Kegiatan Ramadhan 1447 H

Urusan Khusus Kepemudaan Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS telah menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Kegiatan Ramadhan 1447 H pada Senin malam Selasa, 22 Sya’ban 1447 H/9 Februari 2026 M. Acara yang bertempat di Ruang Makan Gedung Ahlul Halli Wal Aqdi ini dihadiri oleh perwakilan santri senior putra-putri dan pemuda YPD AKUIS.

Musyawarah dibuka oleh Irsyad Zamharir dan dipimpin oleh Ketua Urusan Khusus Kepemudaan, Ahmad Ulya Qomaru Zaman, dengan tujuan utama menyusun berbagai agenda penting menyambut bulan Ramadhan tahun 1447 H.

Agenda yang berhasil dibahas dan disepakati meliputi:

  1. Penyusunan Jadwal Jaga Malam selama Ramadhan.
  2. Penetapan Jadwal Jaga Pos Security untuk bulan Syawal.
  3. Pengaturan Jadwal Pengajaran Al Islam I di kompleks pusat.
  4. Pembagian Jadwal Imam Tarawih dan Pemberi Taushiyah di tiap kelompok kajian.
  5. Perencanaan Kegiatan Pesantren Anak-Anak di berbagai lokasi, termasuk pusat, cabang, dan kelompok kajian.
Dalam musyawarah tersebut, seluruh agenda inti telah disetujui oleh peserta. Terdapat beberapa penyesuaian pada waktu pelaksanaan dan pembagian tugas untuk menghindari adanya tabrakan jadwal.

Hasil musyawarah ini akan diajukan ke forum Musyawarah Pengurus YPD AKUIS Pusat untuk mendapatkan pengesahan lebih lanjut sebelum semua rencana dapat dilaksanakan.

Dengan terselenggaranya musyawarah ini, diharapkan seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan dan Syawal YPD AKUIS dapat berjalan dengan tertib, lancar, dan penuh keberkahan.

Ahmad Jundan

Gashuku dan Ujian Beladiri Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqulu eL Muqoffa: Menempa Raga, Menguatkan Iman di Tengah Hujan Penuh Berkah


Jum'at, 6 Februari 2026 M bertepatan dengan 18 Sya'ban 1447 H, menjadi hari yang penuh semangat juang di Pondok Pesantren ‘Aqulu eL Muqoffa dan Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqulu eL Muqoffa. Meskipun langit menurunkan hujan, tidak menyurutkan tekad para santri untuk mengikuti rangkaian kegiatan Gashuku (latihan bersama) dan Ujian Beladiri Tarbiyatul Awaliyah, sebagai bagian dari program ekstrakurikuler beladiri dengan nama Al Muqoffa Self Defanse di caturwulan ke-II.

Kegiatan ini bukan sekadar latihan fisik biasa, tetapi dijiwai dengan nilai-nilai islami: disiplin sebagai bentuk ketaatan, kekuatan raga untuk menjaga kesehatan sebagai amanah, dan semangat ukhuwah dalam kebersamaan. Ibadah bukan hanya di masjid, tetapi juga di setiap tetes keringat yang menandai usaha untuk menjadi lebih kuat secara fisik juga merupakan ibadah, mengingat pesan Allah dan Rasul-Nya, antara lain tentang kisah Nabi Thalut di dalam QS Al-Baqarah : 147 dan Hadits Riwayat Muslim:

قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۗ

…“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan."

Ayat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dan kesiapan untuk membela kebenaran memerlukan dua anugerah utama dari Allah: keunggulan dalam ilmu (basthatan fil 'ilmi) kemudian disempurnakan dengan kekuatan fisik (wal jismi). Kegiatan ini adalah upaya nyata meneladani prioritas tersebut.

Semangat Gashuku di Tengah Rintik Hujan

Pukul 08.00 WIB, dipimpin oleh Ustadz Ahmad Ulya Qomaru Zaman dan Ustadz Hendri Trisyanto, seluruh peserta yang terdiri dari santri Tarbiyatul Awaliyah kelas 1-6 dan santri Ma'had kelas 1-4 telah berkumpul di Lapangan YPD AKUIS Pusat. Hujan yang turun justru menjadi pembuka penuh berkah dan menjadi pelajaran berharga tentang istiqomah—bahwa perjuangan menuntut ilmu dan mengasah diri tidak boleh berhenti hanya karena tantangan cuaca. Hujan adalah rahmat yang membawa kehidupan, kekuatan, keberkahan, dan rezeki bagi seluruh makhluk di bumi.


Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemanasan bersama mulai pukul 08.10. Rangkaian gerakan seperti lari keliling komplek, perenggangan, push-up, sit-up, dan back-up dilakukan dengan penuh semangat. Meski jumlah repetisi berbeda sesuai jenjang (50x untuk santri Ma'had dan 30x untuk santri Tarbiyah), semua melakukannya dengan tekun, mencerminkan kesabaran (sabar) dan kejujuran (shiddiq) dalam beribadah melalui beladiri. Latihan dilanjutkan dengan teknik pernapasan, lompat ban, rolling, lompat harimau, hingga jalan tangan di tangga masjid, melatih keseimbangan fisik dan mental.

Ujian Sparring: Menguji Kemampuan dan Akhlak di Antara Sahabat Sejawat

Sementara santri Ma'had melanjutkan Gashuku di lapangan, para santri Tarbiyatul Awaliyah pindah ke Auditorium YPD AKUIS Pusat untuk mengikuti ujian beladiri inti mulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Ujian ini dipimpin oleh Ustaz Hendri Trisyanto dengan dibantu panitia dari santri Ma'had kelas 4, menunjukkan bimbingan (tarbiyah) dari senior kepada junior.

Jenis ujian kali ini adalah sparring, yaitu simulasi pertarungan terkendali yang menekankan penerapan, power, teknik, dan akhlak. Kegiatan ini dilaksanakan secara perkelas, yang memiliki makna penting: setiap santri berhadapan dengan lawan tanding yang setara, yaitu dari tingkatan kelas yang sama dan dilaksanakan dalam tiga sesi: pagi (08.30-11.00 WIB), siang (13.30-15.20 WIB), dan sore (16.00-17.00 WIB).

Di setiap jurus dan tangkisan, tidak hanya kemampuan fisik yang diuji, tetapi juga akhlak karimah: menghormati lawan (ihsan), menjaga adab bertarung, dan mengendalikan emosi. Berhadapan dengan teman sekelas sendiri justru menjadi latihan yang lebih dalam; mengajarkan untuk tetap bersikap santun dan sportif meski mengenal kelemahan dan kekuatan satu sama lain.

Penutupan Penuh Makna dan Apresiasi

Pukul 17.00 WIB, setelah ujian usai, seluruh peserta berkumpul kembali di auditorium untuk pembagian hadiah dan penutupan pada pukul 17.30. Momen ini diwarnai rasa syukur dan kegembiraan. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kesungguhan mengikuti ujian praktik, hadiah khusus diberikan kepada para santri Tarbiyatul Awaliyah yang telah menjalani sparring. Setiap peserta, baik yang meraih juara maupun yang telah berusaha maksimal, mendapatkan pelajaran berharga: bahwa kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mengalahkan kelemahan diri sendiri dan tetap sportif, terutama di hadapan sahabat seperjuangan. Pemberian hadiah ini menjadi penyemangat konkret bahwa setiap usaha dan ketangguhan dalam menuntut ilmu—baik ilmu Ad-Dien maupun ilmu beladiri—pantas mendapatkan penghargaan.










Harapan: Bekal Ilmu dan Fisik untuk Generasi Tangguh

Melalui kegiatan Gashuku dan Ujian Beladiri ini, tersirat tujuan mendasar yang mulia: membekali santri Ma’had dan Tarbiyah dengan ilmu yang dalam dan fisik yang kuat, agar kelak siap menjadi  muslim tangguh yang siap mendakwahkan kebenaran di tengah masyarakat dan menjadi generasi penerus, pelangsung, dan penyempurna perjalanan Islam di masa depan sebagai mata rantai sejarah yang tak terputus sampai datang janji Allah akan Tegaknya Daulah Islam di seluruh Dunia.

Sebagaimana juga Nabi Thalut yang dipilih Allah karena keunggulan ilmu dan fisiknya, demikianlah harapan untuk generasi santri ini. Ilmu Ad-Dien yang mendalam menjadi lentera yang menerangi jalan dakwah, sementara ketangguhan fisik menjadi sarana untuk menjalankan amanah dakwah dengan optimal, menjaga kesehatan sebagai ibadah, dan melindungi diri bila diperlukan.

Renungan Hujan

Mengambil pengajaran dalam Al-Quran tentang hujan dalam QS Al-Hajj : 5:

وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ ۢ بَهِيْجٍ

“Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah.”

Ayat ini memberikan pengajaran yang dalam. Hujan, meski kerap dianggap sebagai penghalang, sesungguhnya adalah sumber kehidupan dan pertumbuhan. Demikianlah proses pendidikan santri ini – tantangan, keringat, dan lelah dalam latihan ibarat hujan yang menyirami jiwa dan raga. Dari proses ini, diharapkan tumbuh generasi yang "subur" dengan ilmu, kuat dalam fisik, indah dalam akhlak, dan bermanfaat bagi sekitarnya, siap menghidupkan dan menyuburkan kebenaran di mana pun mereka berada.

Kamis, 05 Februari 2026

Perkemahan Santri Tarbiyatul Awaliyah Tahun 1447 H/2026 M

TARBIYATUL AWALIYAH – Suasana di lingkungan Tarbiyatul Awaliyah tampak berbeda sejak Jum'at hingga Ahad, 30 Januari - 1 Februari 2026. Sebanyak empat regu yang terdiri dari santri kelas 4-6 mengikuti rangkaian perkemahan tahunan yang dirancang sebagai sarana penguatan karakter, kemandirian, dan keterampilan lapangan.

Kegiatan ini berjalan di bawah koordinasi Ustadz Heriyanto selaku Penanggung Jawab. Teknis pelaksanaan di lapangan dimandat kepada Miss Nurjannah dan Ustadzah Harbiyatul Muthmainnah sebagai koordinator manajemen peserta. Guna memastikan kelancaran operasional, panitia menyiagakan beberapa divisi khusus:

  • Kesehatan: Ustadzah Balinda.
  • Perlengkapan: Ustadz Ibrahim Abdurrahman Al Musyaddad.
  • Dokumentasi: Ustadz Muhammad Al Fajar.
  • Keamanan: Ustadz Faza Al Farizi.

Pendampingan regu dilakukan secara intensif oleh para mentor, di antaranya Ustadz Ardan Jauhari (Regu Al Faruq), Ustadz Faza (Regu Al Malik), serta Nurul Khairiyah dan Marhamah Uswatun Hasanah (Regu Fatimah dan Khadijah).

Agenda perkemahan tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik, tetapi juga pembekalan keterampilan fungsional. Salah satunya adalah Workshop Pembuatan Pupuk Kompos yang dipandu oleh Miss Nurjannah. Dalam sesi ini, santri mempraktikkan pengolahan limbah organik menggunakan aktivator seperti EM4 atau air cucian beras untuk menghasilkan pupuk padat dan cair melalui sistem komposter yang sistematis.

Aspek ketangkasan dan strategi diuji di Lapangan Balai Desa BW melalui dua metode utama:

  1. Tapak Jejak: Simulasi pemecahan masalah melalui teka-teki berantai yang menuntut kerja sama tim.
  2. Permainan Kelompok: Kompetisi asah otak untuk menguji ketajaman berpikir dan wawasan para santri secara kolektif.

Selama tiga hari pelaksanaan, santri dilatih untuk mengelola kebutuhan logistik secara mandiri, mulai dari memasak hingga pengelolaan perlengkapan regu. Jadwal harian juga mengintegrasikan nilai spiritual melalui pelaksanaan sholat berjamaah dan tadarrus rutin di area perkemahan.

Pada hari Sabtu, intensitas kegiatan meningkat dengan adanya latihan LTBB (Latihan Tata Upacara Bendera dan Baris-berbaris) serta praktik merangkai tandu darurat sebagai bagian dari keterampilan pertolongan pertama.

Rangkaian kegiatan resmi ditutup pada hari Ahad oleh Ustadz Heriyanto. Penutupan ditandai dengan pengumuman pemenang untuk berbagai kategori, meliputi lomba yel-yel, LTBB, teknik merangkai tandu, hingga penentuan Regu Terbaik. Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk validasi atas disiplin dan semangat juang yang telah ditunjukkan para santri selama berlangsungnya kegiatan di bawah langit terbuka tersebut.

Selasa, 03 Februari 2026

PROGRAM PENDIDIKAN PESANTREN BERSKALA INTERNASIONAL

Muhammad Bardan Kindarto

(Yogyakarta, 11 Syawal 1355 H – Palembang, 7 Shafar 1438 H)

 

Dasar utama dari Al Qur-an

Perjalanan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah sunatullah. Sehingga, disadari atau tidak, Allah telah memberi perbekalan dari lahir berupa refleksi yang setiap saat ada pengaruh kepada keadaan lingkungan sekitarnya, yaitu simbiosis mutualisme dan mutual service. Secara manusiawi, setiap diri seseorang telah disempurnakan Allah dengan berbagai kemampuan, yaitu kemampuan mengenal dengan pancaindra (mudrik), kemampuan menggerakkan tubuh (muharik), dan kemampuan berdaya-guna bagi kepentingan masyarakat dan generasi (muatsir). Berkenaan dengan hal itu, Allah menetapkan melalui firman-Nya dalam Al-Quran surah Al-Anbiya, 21 : 105-107.

 

وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ  )١٠٥( إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ  )١٠٦( وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ )١٠٧(


“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.” (105). “Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (106). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (107).

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Quran itu mutlak sebagai pedoman dalam melaksanakan dimensi-dimensi pengabdian. Karena pada dasarnya manusia itu tidak berkeberadaan sama sekali, lalu Allah perintahkan utusan-Nya sebagai pembawa Risalah-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman-Nya, kemudian utusan tersebut memandukan segala aturan-Nya dalam menempati dimensi-dimensi pengabdian. Artinya, bagi hamba Allah yang beriman berkewajiban untuk mengelar Al-Quran atas umat manusia secara keseluruhan dalam rangka mendidik, mengajar berbagai ilmu tersebut ke dalam ilmu terapan, sehingga umat manusia akan memperoleh berbagai pengembangan dalam kehidupan ini tanpa harus berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat, sebagaimana difirmankan-Nya dalam surah Al-Maidah, 5 : 66, yaitu :

 

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ مِّنۡهُمۡ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ  )٦٦(


“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (66).

 

Ayat tersebut merupakan bukti bahwa sedikit sekali mereka yang termasuk dalam wilayah “sabiq bil khoirot” (QS Fathir, 35 : 32). Kenyataannya dalam kalangan mereka yang beriman kebanyakan tidak bernyali untuk menegakkan hukum Allah di tengah masyarakat yang serba plural atau disebut Islam moderat. Sedangkan golongan terbesar adalah orang-orang yang tidak beriman yang hanya mengandalkan logika dan tidak pernah mau tahu terhadap akhirat, mereka itu disebut kaum Hedonisme dan Logika (QS Ad-Dahr, 76 : 27). Maka betapa penting keberadaan program pendidikan melalui kepesantrenan dalam skala internasional dan mendunia.


Pandangan Pola Pendidikan Pesantren Berskala Mendunia

Dengan tanpa mengabaikan tentang kenyataan, bahwa pandangan terhadap lingkungan akan terbagi menjadi dua skala, yaitu nasional dan internasional. Karena sebagai tapakan awal Lembaga Pendidikan dan Keilmuan dalam pesantren-pesantren Islam yang masih lumpuh, dan ini juga termasuk lembaga pendidikan umum, harus diupayakan untuk menjawab berbagai perkembangan dan tantangan serta tuntutan-tuntutannya. Maka diperlukan sumber daya manusia yang memang benar-benar handal dalam menghadapai berbagai masalah tersebut.

 Dalam hal ini sebagian umat Islam masih menelantarkan pujian-pujian dalam Al Qur-an, disebabkan dari Da’inya yang masih kurang peka terhadap keadaan. Karena cara pemahaman mereka terhadap Al Qur-an hanya sebatas tekstual. Oleh karenanya penting memahami profil Lembaga Pendidikan Pesantren berskala Internasional :

A.    Dalam upaya mempunyai sasaran yang jelas, yaitu agar misi yang diemban harus terkait erat dengan kenyataan perkembangan keadaan masyarakat secara nasional dan internasional. Sebagai langkah awal dari metode ramuannya, dapat memanfaatkan “perilaku yang terkandung dalam Pancasila” dalam kepentingan memajukan dan memunculkan ide-ide panduan. Ini membutuhkan penjelasan yang bersifat khusus, karena apapun keadaannya, hal tersebut merupakan produk dan peninggalan umat Islam. Proses dimaksud sangat berkaitan erat dengan peristiwa Perjanjian Udaibiah dan pengerahan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi Tabuk sebagai pra-perjalanan menuju Futuh Makkatul Mukarramah.

B.    Dalam kenyataan kondisi sumber daya umat secara nasional ternyata mengalami keterbelakangan ganda, yaitu keterbelakangan dalam konteks bangsa dan global. Hal ini akan berakibat fatal manakala gong AFTA dipukul pada tahun 2020, yaitu suatu keadaan yang dapat memarjinalkan bangsa Indonesia sebagai akibat liberalisasi ekonomi di Asia Pasifik. Menghadapi hal demikian, selama dipaham secara logika, maka tidak ada jalan lain kecuali dibutuhkan kemampuan daya saing dalam percaturan global tersebut. Maka akan mencapai hasil yang relatif sangat kecil jika dihubungkan dengan kenyataan, yaitu berupa peningkatan berbagai kasus yang disengaja oleh bangsa-bangsa barat yang bertujuan untuk mengadakan tekanan-tekanan terhadap upaya-upaya pengembangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, bila ditelaah secara seksama berdasarkan petunjuk Al Qur-an, maka jalan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah harus melaksanakan suatu pembinaan sumber daya manusianya, yang meliputi aspek keulamaan, aspek intelektual, aspek pengembangan, dan aspek manajemen organisatoris.

C.    Muslim adalah sebagai subjek, berarti manusia sebagai sasaran utama dalam kaitannya dengan masalah tujuan pendidikan tersebut dibangun, sehingga akan memberi nilai tambah insani dalam makna hubungan antarbangsa di dunia. Sedangkan masalah ekonomi dan teknologi itu sekedar bertujuan untuk mengantarkan kepada kenyataan yang bersifat Islami. 

 

Dari penjelasan tersebut, maka akan memberikan makna terhadap definisi Pendidikan Skala Internasional itu sendiri, yaitu upaya menanamkan, menumbuhkan, menyuburkan, dan mengembangkan makna pengabdian tiga dimensi secara proporsional. Dengan definisi tersebut berarti pendidikan menuntut kemampuan dalam mengantasipasi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat di berbagai bangsa termasuk masalah peradaban.

Dalam pembeberannya, masalah pendidikan yang berskala internasional tersebut harus mempersiapkan diri dalam menghadapi beberapa tantangan, antara lain :

A.    Tantangan tentang kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan masa depan. Menghadapi hal tersebut adalah bukan tidak mungkin, apabila dihadapkan dengan berbagai kemajuan dunia ilmu dan tehnologi, disadari atau tidak secara pasti akan menguras pemusatan perhatian terhadap proses tadabbur Al Qur-an dan menyempurnakan kembali pemahaman terhadap Al Hadits Shahih, adalah pengendali bagi perjalanan dan kiprah umat manusia di segala zaman sampai akhir zaman. 

B.    Tantangan di bidang kemampuan untuk menghasilkan para lulusan yang berkualitas. Dalam hal ini adalah bertujuan untuk memperkuat dalam upaya menjadi Muttabi’ur rasul, sehingga program kemanusiaan senantiasa menjadi program unggulan, dalam rangka membangun Khilafah di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan janji Allah.

C.    Tantangan dalam hal upaya. Apapun dan betapapun keadaan yang mungkin terjadi merupakan medan yang sangat berat di tengah-tengah gejolak perubahan dan globalisasi, namun wajib mengaktualisasikan misi Islam. Hal tersebut adalah bagian dari jihad yang sangat mulia.

D.    Tantangan berupa upaya pelestari yang di dalamnya menuntut kemampuan keberhati-hatian dan kerapian dalam memproses agar benar-benar berlandaskan kepada Al Qur-an dan Al Hadits yang shahih. Karena apapun alasannya maka secara nurani umat manusia sedunia mendambakan buah bukti dari makna Islam, yaitu pemersatu dan pembawa kepada Rahmatan lil ’Alamin.

 

Untuk selanjutnya, yang menjadi dambaan umat manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam, adalah lahirnya tokoh-tokoh dunia yang berkualitas, kokoh, dan kukuh dalam berpedoman kepada Al Qur-an dan Al Hadits Shahih.

 

Sehingga dalam mengadakan pendidikan pesantren yang berskala Internasional, harus dapat mengupayakan bagi terwujudnya generasi yang berkemampuan dalam penguasaan dan pengembangan terhadap ilmu/bidangbidang keilmuan kemudian berkemam-puan secara profesional dalam mengentaskan kepada realitas kehidupan masyarakat di seluruh bangsa-bangsa di dunia, terutam dalam hal wawasan dan perilaku serta ilmu terapan. Dengan demikian akan berkemampuan membawa pengaruh terhadap umat dalam segala kiprah kerja yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan.

 

Al Qur-an sendiri telah menyediakan bimbingan dan panduan serta petunjuk yang sangat sempurna dengan ayat-ayatnya Insaniyah (masalah perilaku), Kauniyyah (masalah rahasia sumber daya alam), Tarikhiyyah (masalah sejarah manusia dan kemanusiaan), dan Taqorrub/Ubudiyyah (masalah hubungan dan pendekatan kepada Allah Yang Maha-Pencipta). Bahkan lebih dari itu, Al Quran telah Allah tetapkan di dalamnya berisikan liputan empat tingkatan ilmu, yaitu tingkatan eksak, tingkatan abstrak, tingkatan relatif abstrak, dan tingkatan absolut abstrak. 

 

Dengan demikian sudah semestinya bagi setiap muslim berkewajiban mempunyai rasa terpanggil dan dituntut keikutsertaannya dalam membangun pendidikan kepesantrenan yang berskala dunia. Mengingat petunjuk Allah untuk mendukung ketetapan sunatullah tentang keberadaan masyarakat manusia yang berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah, sehingga masalah kemanusiaan sebagai topik utama Al Qur-an (QSAl Hujurat, 49 : 13) :

A. Allah telah menetapkan bahwa umat mukminin adalah sebagai “Khoiro Ummah” sebagaimana difirmankan dalan Surah Ali Imron, 3 : 110 :

 

كُنتُمۡ خَيۡرَ أمَُّةٍ أخُۡير جَتۡ ليلنَّا يس تأَمُۡرُونَ بيٱلمَۡرُو يف وَتَنۡهَوۡنَ عَ ين ٱلمُۡنكَ ير  وَتؤُۡ يمنوُنَ بيٱللَّّيِۗ وَلوَۡ ءَامَنَ أهَۡل

ٱلۡ يكتَ يبَّٰ لَكََنَ خَيۡرٗا لهَُّمۚ ذيمنۡهُمُ ٱلمُۡؤۡ يمنوُنَ وَأكَۡثََهُُمُ ٱلۡفََّٰ يسقُونَ ) ١١٠ (


 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (110).


Secara maknawi ayat tersebut memberikan ketegasan bahwa mukmin itu adalah sebagai manusia subjek, artinya pemimpin asli atau informal leader atau indigenous leader, yang di dalam bahasa Hadits, Rasulullah menyebutkan dengan istilah “ra’un”, yaitu yang mempunyai tugas dan tanggung jawab keumatan untuk menegakkan kemanusiaan yang utuh. 

 B. Dalam upaya keumatan melaksanakan pengkondisian terhadap generasi melalui berbagai bimbingan menuju perwujudan nilai kemanusiaan dalam pengertian peradaban yang benar, membawa dan memindahkan umat dari kegelapan kepada cahaya iman yang terang benderang. Kemudian membuka kemajuan dunia, kesemuanya tersebut dilakukan secara bersamaan dengan berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al Qur-an Surah Fushilat, 41 : 34-35, yaitu :

 

وَلََّ تسَۡت يوَي ٱلَۡۡسَنَةُ وَلََّ ٱلسَّ ذييئَةُُۚ ٱدۡفَعۡ بيٱلَّ يتِ يهَِ أحَۡسَنُ فإَيذَا ٱ يلَّي بيَنۡكََ وَبَيۡنهَُۥ عَدَوََّٰةٞ كَأَنهَُّۥ وَ ي يل  حَۡييمٞ)٣٤ (وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا  يلُقََّىهََّٰ آ إيلََّّ ذُو حَ ذظٍ عَ يظيمٖ )٣٥(


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (34). “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (35).


 Hal tersebut sangat penting dikarenak untuk menghadapi kafirin yang berada pada kondisi yang disebut krisis manusia modern, yang dapat mengancam nilai kemanusiaan, sebagai akibat dari kegoncangan jiwa dan kekosongan ‘aqidah. Ini akan terbukti dalam menghadapi apa yang disebut Era Globalisasi, bahwa globalisasi adalah proses interaksi yang mendunia yang muncul akibat terjadinya revolusi iptek yang senantiasa mengalami perkembangan. Sehingga akan merupakan era kompetitif dalam seluruh bidang kehidupan yang disertai dengan tingkat persaingan yang tinggi. Dan secara kenyataan akan membuat setiap individu dapat berkomunikasi dan berinteraksi relatif bebas. Maka ayat tersebut menuntut kecermatan dalam menelaah secara kaidah ilmu Al Qur-an agar menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang menjadi dasar utama bagi menyempurnakan beberapa cabang ilmu termasuk ilmu komunikasi.

 

Maka dengan pola Pendidikan Pesantren yang berskala Internasional tersebut merupakan dapur pemikiran dalam kepentingan sebagai pusat kajian terhadap

Al Islam, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ulama, dan generasi. Untuk selanjutnya akan melahirkan ‘Ulama intelektual yang memiliki kematangan intelektual (inteliectual maturity) dan kepribadian utuh (personal organization), yang akan bertindak sebagai pemandu masyarakat dunia.


Hal tersebut sangat beralasan mengingat bahwa Al Qur-an mengajarkan dalan Surah Al Imron, 3 : 68 : 

 

إينَّ أوَۡلَ ٱلناَّي س بيإيبرَۡ يهَّٰيمَ ل يلَََّّينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَذََّٰا ٱلن يبَُِّّ وَٱ يلَّينَ ءَامَنوُِۗاْ وَٱللَُّّ وَ يلُّ ٱ لمُۡؤۡ يمنيينَ  )٦٨ (


 “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (68).

 

Tentang Kurikulum

Dalam pembuatan suatu rencana umum yang berkaitan denga bahan-bahan yang bersifat khusus tentang pelajaran yang akan disajikan untuk mengantar dan memberi pembekalan kepada santri sehingga mereka akan mendapatkan tanda bukti lulusan atau sempurna sebagai santri berupa sertifikat untuk memperoleh kemampuan dalam berbagai kepentingan ummat sesuai dengan petunjuk dan tuntutan Islam. Karena itu harus meliputi “intracurricular dan extracurricular”. Yang perlu diketahui bahwa kurikulum yang ditetapkan dalam pesantren tersebut harus ada saling keterkaitan, disebabkan bertujuan untuk mencetak informal-leader, yang dalam Al Hadits disebut “Ra’un”, dalam suatu perencanaan “core curriculum”, yaitu satu kelompok mata pelajaran dijadikan sebagai pusat atau inti dan akan membangun rasa ketergantungan dan menunjukkan hubungan dengan yang tersebut.

 

Sebenarnya curriculum yang berarti “jalan”, yang penyajiannya adalah pengantar bagi pembinaan yang berujung untuk kepentingan karier hidup. Oleh karena itu, dalam pendidikan pesantren yang berskala internasional di samping masalah keilmuan diperlukan faktor-faktor lain yang dapat mendukung bagi pembangunan sumber daya manusia yang utuh paripurna dan berdaya guna dalam berbagai kepentingan yang terkait dengan masalah keumatan dilandasi dengan Ad Din Al Khoslish, agar tidak mengambil selainnya apapun alasannya. Karena masalah pendidikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb sebagaimana dituntutkan Al Qur-an Surah Az-Zumar, 39 : 3, yaitu :

 

أَلََّ يللَّّي ٱ ذيلينُ ٱلۡۡاَليصُُۚ وَٱ يلَّينَ ٱتََّّذَُواْ يمن دُون ييهۦٓ أوَۡ يلََاءَٓ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إيلََّّ يلَقَُ ذيربوُنآَ إيلََ ٱللَّّي زُلۡفََٰٓ إينَّ ٱللََّّ يََۡكُمُ

بيَۡنهَُمۡ يفِ مَا هُمۡ يفيهي يََۡتلَيفُونَِۗ إينَّ ٱللََّّ لََّ يَهۡ يدي مَنۡ هُوَ كَ يذَّٰبٞ كَفَّارٞ  )٣(


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Ad-Din yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata),  “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."  Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (3).

 

Ayat tersebut diambil bagian sudut di antara jurusannya adalah masalah program pendidikan, karena Allah telah memberikan petunjuk-Nya, antara lain:


A. Dalam Surah An Nisa 9 :

 

 وَلََۡخۡشَ ٱ يلَّينَ لوَۡ ترََكُواْ يمنۡ خَلۡ يف يهمۡ ذ ذيرُيَّةٗ يضعَفًَّٰا خَافوُاْ عَلَيۡ يهمۡ فَلۡيتََّقُواْ ٱللََّّ وَلََۡقُول وُاْ قَوۡلَّٗ سَ يديدًا  )٩(

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”


 B. Dalam Surah Maryam, 19 : 5-6, Nabi Zakaria menyampaikan keprihatinannya terhadap generasi dan pernyataannya diterangkan dalam ayat tersebut, yaitu :

 

وَإِ يذنّ يخفۡتُ ٱلمَۡوَ يلَََّٰ يمن وَرَاءٓيي وَكََن يتَ ٱمۡرَأ يتَِ عََقيرٗا فَهَبۡ يلَ يمن لَُّنكَ وَي  ذلَٗا  )٥( ي يرَث ينُِ وَيَ يرثُ يمنۡ  ءَا يل يَعۡقُوبَٞۖ وَٱجۡعَلۡهُ ر ذيب ر يضَ ذيٗا  )٦(


“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau     seorang putra.” (5). “Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridlai.” (6).

 

Dengan demikian maka berarti betapa penting tentang keberadaan kurikulum yang rapi, baik, dan benar, sehingga dengan itu akan berarti telah mempersiapkan metode pendidikan secara memadai.-

 

 

Banyuasin, Sumatera Selatan

Tanggal     :   17 Syawal 1426 H

                      17 Januari 2006 M

Kamis, 29 Januari 2026

AHWA Dunia, Menakhodai Kapal Persatuan di Tengah Arus Global

Eksistensi umat Islam di kancah global hari ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan jumlah penganut yang besar. Diperlukan sebuah mekanisme kepemimpinan intelektual yang mampu menyatukan hati (tansiqul-qalbi) dan gerak secara terukur/shaffan. Semangat inilah yang melandasi Sosialisasi Perhimpunan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Dunia pada Senin 30 Rajab 1447 H/19 Januari 2026 yang lalu di Jakarta.

Pertemuan di Villa Delima tersebut bukan sekadar persiapan teknis menuju Mudzakarah Ke-9, melainkan penegasan kembali atas mandat internasional yang telah digulirkan sejak 2016.

Soliditas Lokal sebagai Syarat Globalitas

Menarik untuk mencermati catatan Ustadz Drs. Hasan Basri Rahman. Beliau memberikan perspektif yang membumi: bahwa visi global yang megah harus memiliki "jangkar" yang kuat di tingkat lokal. Strategi AHWA bukanlah gerakan elit yang eksklusif, melainkan sebuah ikhtiar yang memulai sinkronisasi visi dari bawah agar bangunan ukhuwah di tingkat dunia tidak keropos.

Pesan beliau jelas, bahwa: persatuan global hanya bisa dicapai jika ulama di tingkat basis sudah berada dalam satu barisan pemikiran yang sama. Inilah fondasi bagi struktur AHWA yang kokoh.

Meluruskan Kompas Akidah Dunia

Tantangan nyata AHWA di level internasional juga ditegaskan oleh Ustadz Ahmad Kainama. Dengan menganalogikan AHWA sebagai "Al-Fulk" (Kapal), bahwa beliau memposisikan lembaga ini sebagai instrumen penyelamat di tengah badai pemikiran dunia.

Melalui tema strategis "Millah Ibrahim atas Pewarisan Ahli Kitab", AHWA mengambil peran sebagai penjaga gawang akidah. Di panggung dunia di mana identitas Islam sering kali dikaburkan, AHWA hadir untuk memberikan pencerahan bahwa Islam adalah satu-satunya Ad-Dien yang diridhai Allah. Ini adalah peran diplomasi teologis yang sangat krusial di kancah internasional.

Menuju Mudzakarah Ke-9: Diplomasi Ulama untuk Dunia

Perhelatan yang dijadwalkan pada Dzulhijjah 1447 H mendatang adalah momentum pembuktian. AHWA tidak sedang membangun menara gading; ia sedang menjahit ukhuwah yang membentang dari lokal hingga ke forum-forum dunia.

Jika sosialisasi ini berhasil menanamkan kesadaran kolektif, maka Mudzakarah Ke-9 tidak hanya akan menjadi ajang berkumpulnya para tokoh, tetapi akan menjadi kompas baru bagi peradaban Islam global. "Api" yang menyala di Jakarta kemarin harus dipastikan mampu membakar semangat persatuan para ulama dan intelektual muslim di seluruh penjuru bumi.

Minggu, 25 Januari 2026

Jalin Ukhuwah: Keseruan Laga Persahabatan Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa vs Ponpes Tahfiz Nurul Quran

 

Suasana di lapangan Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa Al-Islamiy sore ini tampak berbeda. Bukan riuh hafalan kitab atau kultum yang terdengar, melainkan sorak sorai semangat persaudaraan dalam laga persahabatan futsal santri yang digelar pada Ahad, 6 Sya’ban 1447 H/25 Januari 2026 M.

Penyambutan Hangat

Tepat pukul 14.30 WIB, rombongan dari Ponpes Tahfiz Nurul Quran tiba di lokasi dan langsung disambut hangat oleh para pengurus serta santri tuan rumah. Acara dibuka secara resmi pada pukul 15.00 WIB dengan sambutan dari M. Rusdan Baldan (Abang Didan) selaku Ketua Pelaksana, serta sambutan Kak Ade sebagai pembimbing sekaligus mudaris dari Ponpes Tahfiz Nurul Quran.

"Pertandingan ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal bagaimana kita mempererat tali silaturahim antar santri," ujar Abang Didan dalam wawancara.

Jeda Ibadah & Kick Off yang Seru

Setelah melaksanakan sholat Ashar berjama’ah di masjid untuk mengisi "bahan bakar" spiritual, peluit tanda dimulainya pertandingan akhirnya ditiup pada pukul 16.00 WIB. Di bawah pengawasan Asad Fahmi Al-Faruq sebagai penanggung jawab acara, pertandingan berlangsung sangat kompetitif namun tetap sportif.

Laga dibagi menjadi dua sesi:

  1. Tingkat Junior (Kelas 7–9): Pertandingan berlangsung sangat sengit. Kejar-kejaran skor terjadi, namun Tim Ponpes Tahfiz Nurul Quran berhasil unggul tipis dengan skor akhir 4-3.
  2. Tingkat Senior (Kelas 10–13): Di sesi kedua, dominasi Tim Ponpes Tahfiz Nurul Quran semakin terlihat. Meski tuan rumah memberikan perlawanan maksimal, tim tamu sukses mengamankan kemenangan telak dengan skor 8-3.
Lebih dari Sekadar Pertandingan

Meski tim tamu memenangkan kedua laga, raut wajah ceria tetap terpancar dari seluruh santri. Acara ditutup pada pukul 17.30 WIB dengan sesi jabat tangan dan foto bersama yang penuh keakraban.

Laga persahabatan ini diharapkan menjadi wasilah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, khususnya antar pondok pesantren. Semoga semangat sportivitas dan persaudaraan ini terus terjaga.

Sampai jumpa di pertandingan selanjutnya!