Senin, 09 Februari 2026

Gashuku dan Ujian Beladiri Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqulu eL Muqoffa: Menempa Raga, Menguatkan Iman di Tengah Hujan Penuh Berkah


Jum'at, 6 Februari 2026 M bertepatan dengan 18 Sya'ban 1447 H, menjadi hari yang penuh semangat juang di Pondok Pesantren ‘Aqulu eL Muqoffa dan Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqulu eL Muqoffa. Meskipun langit menurunkan hujan, tidak menyurutkan tekad para santri untuk mengikuti rangkaian kegiatan Gashuku (latihan bersama) dan Ujian Beladiri Tarbiyatul Awaliyah, sebagai bagian dari program ekstrakurikuler beladiri dengan nama Al Muqoffa Self Defanse di caturwulan ke-II.

Kegiatan ini bukan sekadar latihan fisik biasa, tetapi dijiwai dengan nilai-nilai islami: disiplin sebagai bentuk ketaatan, kekuatan raga untuk menjaga kesehatan sebagai amanah, dan semangat ukhuwah dalam kebersamaan. Ibadah bukan hanya di masjid, tetapi juga di setiap tetes keringat yang menandai usaha untuk menjadi lebih kuat secara fisik juga merupakan ibadah, mengingat pesan Allah dan Rasul-Nya, antara lain tentang kisah Nabi Thalut di dalam QS Al-Baqarah : 147 dan Hadits Riwayat Muslim:

قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۗ

…“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan."

Ayat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dan kesiapan untuk membela kebenaran memerlukan dua anugerah utama dari Allah: keunggulan dalam ilmu (basthatan fil 'ilmi) kemudian disempurnakan dengan kekuatan fisik (wal jismi). Kegiatan ini adalah upaya nyata meneladani prioritas tersebut.

Semangat Gashuku di Tengah Rintik Hujan

Pukul 08.00 WIB, dipimpin oleh Ustadz Ahmad Ulya Qomaru Zaman dan Ustadz Hendri Trisyanto, seluruh peserta yang terdiri dari santri Tarbiyatul Awaliyah kelas 1-6 dan santri Ma'had kelas 1-4 telah berkumpul di Lapangan YPD AKUIS Pusat. Hujan yang turun justru menjadi pembuka penuh berkah dan menjadi pelajaran berharga tentang istiqomah—bahwa perjuangan menuntut ilmu dan mengasah diri tidak boleh berhenti hanya karena tantangan cuaca. Hujan adalah rahmat yang membawa kehidupan, kekuatan, keberkahan, dan rezeki bagi seluruh makhluk di bumi.


Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemanasan bersama mulai pukul 08.10. Rangkaian gerakan seperti lari keliling komplek, perenggangan, push-up, sit-up, dan back-up dilakukan dengan penuh semangat. Meski jumlah repetisi berbeda sesuai jenjang (50x untuk santri Ma'had dan 30x untuk santri Tarbiyah), semua melakukannya dengan tekun, mencerminkan kesabaran (sabar) dan kejujuran (shiddiq) dalam beribadah melalui beladiri. Latihan dilanjutkan dengan teknik pernapasan, lompat ban, rolling, lompat harimau, hingga jalan tangan di tangga masjid, melatih keseimbangan fisik dan mental.

Ujian Sparring: Menguji Kemampuan dan Akhlak di Antara Sahabat Sejawat

Sementara santri Ma'had melanjutkan Gashuku di lapangan, para santri Tarbiyatul Awaliyah pindah ke Auditorium YPD AKUIS Pusat untuk mengikuti ujian beladiri inti mulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Ujian ini dipimpin oleh Ustaz Hendri Trisyanto dengan dibantu panitia dari santri Ma'had kelas 4, menunjukkan bimbingan (tarbiyah) dari senior kepada junior.

Jenis ujian kali ini adalah sparring, yaitu simulasi pertarungan terkendali yang menekankan penerapan, power, teknik, dan akhlak. Kegiatan ini dilaksanakan secara perkelas, yang memiliki makna penting: setiap santri berhadapan dengan lawan tanding yang setara, yaitu dari tingkatan kelas yang sama dan dilaksanakan dalam tiga sesi: pagi (08.30-11.00 WIB), siang (13.30-15.20 WIB), dan sore (16.00-17.00 WIB).

Di setiap jurus dan tangkisan, tidak hanya kemampuan fisik yang diuji, tetapi juga akhlak karimah: menghormati lawan (ihsan), menjaga adab bertarung, dan mengendalikan emosi. Berhadapan dengan teman sekelas sendiri justru menjadi latihan yang lebih dalam; mengajarkan untuk tetap bersikap santun dan sportif meski mengenal kelemahan dan kekuatan satu sama lain.

Penutupan Penuh Makna dan Apresiasi

Pukul 17.00 WIB, setelah ujian usai, seluruh peserta berkumpul kembali di auditorium untuk pembagian hadiah dan penutupan pada pukul 17.30. Momen ini diwarnai rasa syukur dan kegembiraan. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kesungguhan mengikuti ujian praktik, hadiah khusus diberikan kepada para santri Tarbiyatul Awaliyah yang telah menjalani sparring. Setiap peserta, baik yang meraih juara maupun yang telah berusaha maksimal, mendapatkan pelajaran berharga: bahwa kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mengalahkan kelemahan diri sendiri dan tetap sportif, terutama di hadapan sahabat seperjuangan. Pemberian hadiah ini menjadi penyemangat konkret bahwa setiap usaha dan ketangguhan dalam menuntut ilmu—baik ilmu Ad-Dien maupun ilmu beladiri—pantas mendapatkan penghargaan.










Harapan: Bekal Ilmu dan Fisik untuk Generasi Tangguh

Melalui kegiatan Gashuku dan Ujian Beladiri ini, tersirat tujuan mendasar yang mulia: membekali santri Ma’had dan Tarbiyah dengan ilmu yang dalam dan fisik yang kuat, agar kelak siap menjadi  muslim tangguh yang siap mendakwahkan kebenaran di tengah masyarakat dan menjadi generasi penerus, pelangsung, dan penyempurna perjalanan Islam di masa depan sebagai mata rantai sejarah yang tak terputus sampai datang janji Allah akan Tegaknya Daulah Islam di seluruh Dunia.

Sebagaimana juga Nabi Thalut yang dipilih Allah karena keunggulan ilmu dan fisiknya, demikianlah harapan untuk generasi santri ini. Ilmu Ad-Dien yang mendalam menjadi lentera yang menerangi jalan dakwah, sementara ketangguhan fisik menjadi sarana untuk menjalankan amanah dakwah dengan optimal, menjaga kesehatan sebagai ibadah, dan melindungi diri bila diperlukan.

Renungan Hujan

Mengambil pengajaran dalam Al-Quran tentang hujan dalam QS Al-Hajj : 5:

وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ ۢ بَهِيْجٍ

“Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah.”

Ayat ini memberikan pengajaran yang dalam. Hujan, meski kerap dianggap sebagai penghalang, sesungguhnya adalah sumber kehidupan dan pertumbuhan. Demikianlah proses pendidikan santri ini – tantangan, keringat, dan lelah dalam latihan ibarat hujan yang menyirami jiwa dan raga. Dari proses ini, diharapkan tumbuh generasi yang "subur" dengan ilmu, kuat dalam fisik, indah dalam akhlak, dan bermanfaat bagi sekitarnya, siap menghidupkan dan menyuburkan kebenaran di mana pun mereka berada.

0 komentar:

Posting Komentar