Peresmian Ma'had eL Islamiy

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto menyerahkan SK Mudir Ma'had kepada Ustadz Noviandi dalam acara Pembukaan Ma'had, pada hari Sabtu, tanggal 1 Muharam 1433 / 26 November 2011

Ustadz Muhammad Bardan Kindarto (Pembina)

Didampingi Ustadz Wahadi (Ketua Umum) pada Pembukaan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa", Sabtu 1 Muharam 1433 H

Para Santri pada acara pembukaan

Pembukaan Ma'had el Islamiy " 'Aqu-lu el Muqoffa" pada Hari Sabtu, tanggal 1 Muharram 1433 H di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat

Hari Pertama didalam kelas

Santriwan yang sedang konsentrasi mendengar pengarahan hari pertama mereka didalam kelas

Pembukaan dan Peresmian Ma'had

Sabtu, 1 Muharam 1433 / 26 November 2012 di Gedung Auditorium Yayasan AKUIS Pusat diresmikan Ma'had eL Islamiy " 'Aqu-lu eL Muqoffa

Gedung Ma'had yang tampak kokoh

Gedung Ma'had dalam komplek Yayasan AKUIS Pusat yang terletak dipinggir Jalan Raya Palembang-Betung Km.14 dari Palembang

MASJID eL MUQOFFA

Masjid eL Muqoffa dengan dua lantai yang senantiasa dipenuhi dengan aktifitas ibadah, sholat berjama'ah, kuliah subuh, aktifitas santri dan lainnya.

GEDUNG MA'HAD

Gedung Ma'had dengan dua lantai sebagai wadah aktifitas belajar dan mengajar.

Tampilkan postingan dengan label Yayasan AKUIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yayasan AKUIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

YPD AKUIS Pusat Resmi Buka Pesantren Ramadhan Anak-Anak: Dari Murid Jadi Guru, Kisah Almuni Membimbing Adik-Adik di Pesantren Ramadhan

Nuansa gembiraan di Auditorium YPD AKUIS Pusat pada Kamis malam 20 Februari 2026 /Malam ke-3 Ramadhan 1447 H. Suara bising dan tawa anak-anak bergema menandai dimulainya pembukaan Pesantren Ramadhan Anak-Anak YPD AKUIS Pusat Tahun 1447 H. Acara yang digelar setelah Sholat Isya berjamaah ini menjadi momentum penyemangat bagi putra-putri jama’ah YPD AKUIS Pusat dan sekiatnya untuk mengisi bulan Ramadhan dengan ilmu dan ibadah.

Kegiatan yang akan berlangsung selama 24 hari ke depan ini didasari oleh semangat pengkondisian khusus di lingkungan YPD AKUIS selama Bulan Ramadhan dan Syawal, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Pengurus Yayasan Nomor 035/YPDA-KP/Pn.03/B.K/08.47.

Belajar, Bermain, dan Beribadah

Ketua Pelaksana, Ilham Grenadi, yang merupakan santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat Zu’ama, memimpin langsung jalannya acara. Dalam sambutannya, ia memaparkan rangkaian kegiatan yang akan menyemarakkan bulan Ramadhan bagi kurang lebih 140 anak usia 5-12 tahun, yang mayoritas merupakan santri Tarbiyatul Awaliyah.

“InsyaAllah, selama 24 hari ke depan, anak-anak tidak hanya akan menjalani masa belajar-mengajar, tetapi juga akan mengikuti serangkaian lomba,” ujar Ilham dalam wawancara.

Ia merinci, materi yang diajarkan meliputi hafalan Al-Quran, doa sehari-hari, praktik sholat, lagu-lagu islami, mengenal sifat-sifat Allah, nama malaikat dan tugasnya, kisah para rasul, hingga pengenalan bahasa Arab dan Inggris. Puncak acara akan dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadhan di Masjid eL-Muqoffa, dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba.

“Harapan saya, para pengajar dapat meningkatkan disiplin dan menjadikan ini sebagai pengalaman berharga dalam mendidik. Untuk adik-adik peserta, manfaatkan waktu ini untuk belajar sambil bermain, dan yang terpenting adalah melatih ibadah sholat dengan bacaan dan gerakan yang baik dan benar,” tambah Ilham.

Pengalaman Berharga dari Alumni untuk Generasi Penerus

SuSuasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa dengan hadirnya para pembimbing yang merupakan santri putra dan putri Ma’had kelas 3 hingga kelas 10. Salah satunya adalah Nada Syahidah, atau yang akrab disapa Kakak Nada, seorang santri putri kelas 6 Ma’had yang juga merupakan alumni peserta Pesantren Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya.

Nada berbagi cerita tentang pengalamannya. “Dulu saat saya menjadi murid di sini, saya merasakan betul metode belajar yang seru dan asik. Kami diajarkan dengan cara bermain, tebak-tebakan, dan bernyanyi, jadi materinya mudah dipahami,” kenangnya.

Kini di posisi sebagai pembimbing, Nada mengaku mendapatkan pengalaman tak ternilai. “Menjadi pengajar di sini benar-benar mengajarkan kami untuk memahami psikologi anak-anak usia 5-12 tahun. Dibutuhkan kesabaran dan kedisiplinan ekstra,” katanya.

Kepada para peserta didik, ia berpesan agar senantiasa menghormati guru dan orang yang lebih tua. Ia juga mengingatkan sesama pengajar untuk fokus dan disiplin dalam tugas, serta mengajak para wali murid untuk bersinergi dalam mendidik adab dan akhlak anak.


Kebahagiaan Sederhana di Bulan Penuh Ampunan

Kegembiraan tak hanya terpancar dari wajah para panitia, tetapi juga dari para peserta. Salah seorang peserta, Faza, santri kelas 6 Tarbiyatul Awaliyah, dengan polosnya mengungkapkan perasaannya.

“Seru!!! Apolagi pas balek, ado sneknyo senang nian!!!” ucap Faza bahagia menggunakan bahasa Palembang, menggambarkan kesederhanaan keceriaan anak-anak yang begitu berarti.

Acara pembukaan yang berlangsung hingga pukul 21.30 WIB itu diisi dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari pengarahan, pembagian kelompok, hingga sesi belajar dan bermain perdana bersama pembimbing. Setelah Sholat Tarawih berjamaah, acara semakin meriah dengan games, tebak-tebakan, dan menyanyi lagu-lagu islami sebelum akhirnya ditutup dengan pembagian makanan ringan (snek) dan kepulangan para peserta dengan hati gembira dan penuh semangat menjalani ibadah puasa keesokan harinya.

Dengan semangat kebersamaan dan niat ikhlas karena Allah SWT, Pesantren Ramadhan Anak-Anak di YPD AKUIS Pusat ini diharapkan mampu melahirkan generasi Qurani yang cerdas, berakhlak mulia, serta cinta kepada Allah & Rasul-Nya.

Muhammd Fadhil


Rabu, 18 Februari 2026

Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS Pusat Gelar Tarawih Perdana, Hidupkan Generasi Quranis & Meneladani Semangat Perang Badar

Seluruh jama’ah yang berdomisili di dalam komplek dan sekitarnya berbondong-bondong mengikuti rangkaian ibadah Shalat Tarawih perdana yang digelar di Masjid eL-Muqoffa Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS Pusat pada malam pertama Ramadhan 1447 H. Tepatnya pada malam Rabu, 17 Februari 2026 M.

Kegiatan yang menjadi momentum pembuka di bulan Ramadhan ini diawali dengan Shalat Isya’ berjama’ah, yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan yang penuh hikmah, merujuk langsung kepada sumber pertama dan utama, Al-Quran dan As-Sunnah.

Kultum Santri: Menggali Esensi Shaum

Suasana menggetarkan hati ketika sesi Kultum Santri yang disampaikan oleh Ahmad Febri, salah seorang santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat masa bakti dari Desa Marga Mulia, Kecamatan Rambang. Dengan lugas dan berapi-api, ia menyampaikan kultum yang merujuk pada firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat ke-183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Dalam pemaparannya, Ahmad Febri menjelaskan bahwa ayat ini menjadi fondasi utama kewajiban melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Ia menekankan bahwa ibadah shaum bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah ilahiyah untuk membentuk karakter pribadi yang bertakwa.

Lebih lanjut, ia mengaitkan keistimewaan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Quran. "Bulan ini adalah nuzulul Quran. Oleh karena itu, momentum Ramadhan harus kita jadikan sebagai titik tolak untuk menjadi generasi quranis, yaitu generasi yang tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari (tadabbur Al-Quran)," ujarnya di hadapan jama'ah. Penutup ayat tersebut, la'allakum tattaquun, menjadi target akhir yang harus diraih setiap muslim, yaitu meraih predikat takwa sebagai karakter sejati seorang mukmin.

Shalat Tarawih Berjamaah dan Kajian Al-Islam: Pengajaran Kisah Perang Badar

Setelah kultum, jama’ah mendirikan Shalat Tarawih berjama’ah dengan khusyuk. Bertindak sebagai imam adalah Ketua Pembina YPD AKUIS, Ustadz Arbani.

Puncak kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Kajian Al-Islam yang juga disampaikan oleh Ustadz Arbani. Dalam kajiannya, beliau mengangkat dasar Al-Quran dari Surah Al-Fath ayat ke-4:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan mereka di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."

Ustadz Arbani mengajak jama’ah untuk merenungkan sebuah peristiwa monumental yang terjadi tepat pada tanggal 17 Ramadhan, yaitu Perang Badar di periode Madinah. Beliau memaparkan kondisi pasukan muslim yang saat itu hanya berjumlah 313 orang dengan perlengkapan yang sangat minim, baik dari segi kendaraan, peralatan perang, maupun keahlian bertempur. Di hadapan mereka, berdiri pasukan Abu Sufyan yang jauh lebih unggul secara fisik dan materi, sehingga wajar jika muncul rasa ragu di kalangan sebagian muslim.

"Namun, di sinilah letak kekuatan iman. Ketika pasukan muslim berserah diri dan hanya mengharap pertolongan Allah, maka Allah menurunkan Sakinah (ketenangan) ke dalam hati mereka. Allah memiliki bala tentara yang tidak terlihat. Pada perang Badar, Allah menurunkan bantuan ribuan malaikat untuk berperang bersama kaum muslimin, sehingga atas izin Allah, kemenangan besar dapat diraih oleh pasukan yang lemah secara kasat mata."




Kisah heroik ini menjadi pelajaran berharga bagi jama’ah bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, meskipun tantangan yang dihadapi tampak mustahil. Semangat Perang Badar inilah yang harus menghidupkan jiwa kaum muslimin di bulan Ramadhan, untuk terus berjuang melawan hawa nafsu dan meraih kemenangan berupa derajat takwa.

Kegiatan Tarawih perdana di YPD AKUIS Pusat ini pun berlangsung lancar dan meninggalkan kesan mendalam. Kegiatan serupa akan terus berlangsung sepanjang bulan Ramadhan dengan jadwal kultum santri dan kajian Al-Islam yang telah dipersiapkan secara bergantian.

Muhammad Rusdan Baldan

Senin, 09 Februari 2026

Pemuda Gelar Musyawarah Persiapan Kegiatan Ramadhan 1447 H

Urusan Khusus Kepemudaan Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS telah menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Kegiatan Ramadhan 1447 H pada Senin malam Selasa, 22 Sya’ban 1447 H/9 Februari 2026 M. Acara yang bertempat di Ruang Makan Gedung Ahlul Halli Wal Aqdi ini dihadiri oleh perwakilan santri senior putra-putri dan pemuda YPD AKUIS.

Musyawarah dibuka oleh Irsyad Zamharir dan dipimpin oleh Ketua Urusan Khusus Kepemudaan, Ahmad Ulya Qomaru Zaman, dengan tujuan utama menyusun berbagai agenda penting menyambut bulan Ramadhan tahun 1447 H.

Agenda yang berhasil dibahas dan disepakati meliputi:

  1. Penyusunan Jadwal Jaga Malam selama Ramadhan.
  2. Penetapan Jadwal Jaga Pos Security untuk bulan Syawal.
  3. Pengaturan Jadwal Pengajaran Al Islam I di kompleks pusat.
  4. Pembagian Jadwal Imam Tarawih dan Pemberi Taushiyah di tiap kelompok kajian.
  5. Perencanaan Kegiatan Pesantren Anak-Anak di berbagai lokasi, termasuk pusat, cabang, dan kelompok kajian.
Dalam musyawarah tersebut, seluruh agenda inti telah disetujui oleh peserta. Terdapat beberapa penyesuaian pada waktu pelaksanaan dan pembagian tugas untuk menghindari adanya tabrakan jadwal.

Hasil musyawarah ini akan diajukan ke forum Musyawarah Pengurus YPD AKUIS Pusat untuk mendapatkan pengesahan lebih lanjut sebelum semua rencana dapat dilaksanakan.

Dengan terselenggaranya musyawarah ini, diharapkan seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan dan Syawal YPD AKUIS dapat berjalan dengan tertib, lancar, dan penuh keberkahan.

Ahmad Jundan

Selasa, 03 Februari 2026

PROGRAM PENDIDIKAN PESANTREN BERSKALA INTERNASIONAL

Muhammad Bardan Kindarto

(Yogyakarta, 11 Syawal 1355 H – Palembang, 7 Shafar 1438 H)

 

Dasar utama dari Al Qur-an

Perjalanan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah sunatullah. Sehingga, disadari atau tidak, Allah telah memberi perbekalan dari lahir berupa refleksi yang setiap saat ada pengaruh kepada keadaan lingkungan sekitarnya, yaitu simbiosis mutualisme dan mutual service. Secara manusiawi, setiap diri seseorang telah disempurnakan Allah dengan berbagai kemampuan, yaitu kemampuan mengenal dengan pancaindra (mudrik), kemampuan menggerakkan tubuh (muharik), dan kemampuan berdaya-guna bagi kepentingan masyarakat dan generasi (muatsir). Berkenaan dengan hal itu, Allah menetapkan melalui firman-Nya dalam Al-Quran surah Al-Anbiya, 21 : 105-107.

 

وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ  )١٠٥( إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ  )١٠٦( وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ )١٠٧(


“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.” (105). “Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (106). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (107).

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Quran itu mutlak sebagai pedoman dalam melaksanakan dimensi-dimensi pengabdian. Karena pada dasarnya manusia itu tidak berkeberadaan sama sekali, lalu Allah perintahkan utusan-Nya sebagai pembawa Risalah-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman-Nya, kemudian utusan tersebut memandukan segala aturan-Nya dalam menempati dimensi-dimensi pengabdian. Artinya, bagi hamba Allah yang beriman berkewajiban untuk mengelar Al-Quran atas umat manusia secara keseluruhan dalam rangka mendidik, mengajar berbagai ilmu tersebut ke dalam ilmu terapan, sehingga umat manusia akan memperoleh berbagai pengembangan dalam kehidupan ini tanpa harus berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat, sebagaimana difirmankan-Nya dalam surah Al-Maidah, 5 : 66, yaitu :

 

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ مِّنۡهُمۡ أُمَّةٞ مُّقۡتَصِدَةٞۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ سَآءَ مَا يَعۡمَلُونَ  )٦٦(


“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (66).

 

Ayat tersebut merupakan bukti bahwa sedikit sekali mereka yang termasuk dalam wilayah “sabiq bil khoirot” (QS Fathir, 35 : 32). Kenyataannya dalam kalangan mereka yang beriman kebanyakan tidak bernyali untuk menegakkan hukum Allah di tengah masyarakat yang serba plural atau disebut Islam moderat. Sedangkan golongan terbesar adalah orang-orang yang tidak beriman yang hanya mengandalkan logika dan tidak pernah mau tahu terhadap akhirat, mereka itu disebut kaum Hedonisme dan Logika (QS Ad-Dahr, 76 : 27). Maka betapa penting keberadaan program pendidikan melalui kepesantrenan dalam skala internasional dan mendunia.


Pandangan Pola Pendidikan Pesantren Berskala Mendunia

Dengan tanpa mengabaikan tentang kenyataan, bahwa pandangan terhadap lingkungan akan terbagi menjadi dua skala, yaitu nasional dan internasional. Karena sebagai tapakan awal Lembaga Pendidikan dan Keilmuan dalam pesantren-pesantren Islam yang masih lumpuh, dan ini juga termasuk lembaga pendidikan umum, harus diupayakan untuk menjawab berbagai perkembangan dan tantangan serta tuntutan-tuntutannya. Maka diperlukan sumber daya manusia yang memang benar-benar handal dalam menghadapai berbagai masalah tersebut.

 Dalam hal ini sebagian umat Islam masih menelantarkan pujian-pujian dalam Al Qur-an, disebabkan dari Da’inya yang masih kurang peka terhadap keadaan. Karena cara pemahaman mereka terhadap Al Qur-an hanya sebatas tekstual. Oleh karenanya penting memahami profil Lembaga Pendidikan Pesantren berskala Internasional :

A.    Dalam upaya mempunyai sasaran yang jelas, yaitu agar misi yang diemban harus terkait erat dengan kenyataan perkembangan keadaan masyarakat secara nasional dan internasional. Sebagai langkah awal dari metode ramuannya, dapat memanfaatkan “perilaku yang terkandung dalam Pancasila” dalam kepentingan memajukan dan memunculkan ide-ide panduan. Ini membutuhkan penjelasan yang bersifat khusus, karena apapun keadaannya, hal tersebut merupakan produk dan peninggalan umat Islam. Proses dimaksud sangat berkaitan erat dengan peristiwa Perjanjian Udaibiah dan pengerahan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi Tabuk sebagai pra-perjalanan menuju Futuh Makkatul Mukarramah.

B.    Dalam kenyataan kondisi sumber daya umat secara nasional ternyata mengalami keterbelakangan ganda, yaitu keterbelakangan dalam konteks bangsa dan global. Hal ini akan berakibat fatal manakala gong AFTA dipukul pada tahun 2020, yaitu suatu keadaan yang dapat memarjinalkan bangsa Indonesia sebagai akibat liberalisasi ekonomi di Asia Pasifik. Menghadapi hal demikian, selama dipaham secara logika, maka tidak ada jalan lain kecuali dibutuhkan kemampuan daya saing dalam percaturan global tersebut. Maka akan mencapai hasil yang relatif sangat kecil jika dihubungkan dengan kenyataan, yaitu berupa peningkatan berbagai kasus yang disengaja oleh bangsa-bangsa barat yang bertujuan untuk mengadakan tekanan-tekanan terhadap upaya-upaya pengembangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, bila ditelaah secara seksama berdasarkan petunjuk Al Qur-an, maka jalan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah harus melaksanakan suatu pembinaan sumber daya manusianya, yang meliputi aspek keulamaan, aspek intelektual, aspek pengembangan, dan aspek manajemen organisatoris.

C.    Muslim adalah sebagai subjek, berarti manusia sebagai sasaran utama dalam kaitannya dengan masalah tujuan pendidikan tersebut dibangun, sehingga akan memberi nilai tambah insani dalam makna hubungan antarbangsa di dunia. Sedangkan masalah ekonomi dan teknologi itu sekedar bertujuan untuk mengantarkan kepada kenyataan yang bersifat Islami. 

 

Dari penjelasan tersebut, maka akan memberikan makna terhadap definisi Pendidikan Skala Internasional itu sendiri, yaitu upaya menanamkan, menumbuhkan, menyuburkan, dan mengembangkan makna pengabdian tiga dimensi secara proporsional. Dengan definisi tersebut berarti pendidikan menuntut kemampuan dalam mengantasipasi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat di berbagai bangsa termasuk masalah peradaban.

Dalam pembeberannya, masalah pendidikan yang berskala internasional tersebut harus mempersiapkan diri dalam menghadapi beberapa tantangan, antara lain :

A.    Tantangan tentang kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan masa depan. Menghadapi hal tersebut adalah bukan tidak mungkin, apabila dihadapkan dengan berbagai kemajuan dunia ilmu dan tehnologi, disadari atau tidak secara pasti akan menguras pemusatan perhatian terhadap proses tadabbur Al Qur-an dan menyempurnakan kembali pemahaman terhadap Al Hadits Shahih, adalah pengendali bagi perjalanan dan kiprah umat manusia di segala zaman sampai akhir zaman. 

B.    Tantangan di bidang kemampuan untuk menghasilkan para lulusan yang berkualitas. Dalam hal ini adalah bertujuan untuk memperkuat dalam upaya menjadi Muttabi’ur rasul, sehingga program kemanusiaan senantiasa menjadi program unggulan, dalam rangka membangun Khilafah di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan janji Allah.

C.    Tantangan dalam hal upaya. Apapun dan betapapun keadaan yang mungkin terjadi merupakan medan yang sangat berat di tengah-tengah gejolak perubahan dan globalisasi, namun wajib mengaktualisasikan misi Islam. Hal tersebut adalah bagian dari jihad yang sangat mulia.

D.    Tantangan berupa upaya pelestari yang di dalamnya menuntut kemampuan keberhati-hatian dan kerapian dalam memproses agar benar-benar berlandaskan kepada Al Qur-an dan Al Hadits yang shahih. Karena apapun alasannya maka secara nurani umat manusia sedunia mendambakan buah bukti dari makna Islam, yaitu pemersatu dan pembawa kepada Rahmatan lil ’Alamin.

 

Untuk selanjutnya, yang menjadi dambaan umat manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam, adalah lahirnya tokoh-tokoh dunia yang berkualitas, kokoh, dan kukuh dalam berpedoman kepada Al Qur-an dan Al Hadits Shahih.

 

Sehingga dalam mengadakan pendidikan pesantren yang berskala Internasional, harus dapat mengupayakan bagi terwujudnya generasi yang berkemampuan dalam penguasaan dan pengembangan terhadap ilmu/bidangbidang keilmuan kemudian berkemam-puan secara profesional dalam mengentaskan kepada realitas kehidupan masyarakat di seluruh bangsa-bangsa di dunia, terutam dalam hal wawasan dan perilaku serta ilmu terapan. Dengan demikian akan berkemampuan membawa pengaruh terhadap umat dalam segala kiprah kerja yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan.

 

Al Qur-an sendiri telah menyediakan bimbingan dan panduan serta petunjuk yang sangat sempurna dengan ayat-ayatnya Insaniyah (masalah perilaku), Kauniyyah (masalah rahasia sumber daya alam), Tarikhiyyah (masalah sejarah manusia dan kemanusiaan), dan Taqorrub/Ubudiyyah (masalah hubungan dan pendekatan kepada Allah Yang Maha-Pencipta). Bahkan lebih dari itu, Al Quran telah Allah tetapkan di dalamnya berisikan liputan empat tingkatan ilmu, yaitu tingkatan eksak, tingkatan abstrak, tingkatan relatif abstrak, dan tingkatan absolut abstrak. 

 

Dengan demikian sudah semestinya bagi setiap muslim berkewajiban mempunyai rasa terpanggil dan dituntut keikutsertaannya dalam membangun pendidikan kepesantrenan yang berskala dunia. Mengingat petunjuk Allah untuk mendukung ketetapan sunatullah tentang keberadaan masyarakat manusia yang berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah, sehingga masalah kemanusiaan sebagai topik utama Al Qur-an (QSAl Hujurat, 49 : 13) :

A. Allah telah menetapkan bahwa umat mukminin adalah sebagai “Khoiro Ummah” sebagaimana difirmankan dalan Surah Ali Imron, 3 : 110 :

 

كُنتُمۡ خَيۡرَ أمَُّةٍ أخُۡير جَتۡ ليلنَّا يس تأَمُۡرُونَ بيٱلمَۡرُو يف وَتَنۡهَوۡنَ عَ ين ٱلمُۡنكَ ير  وَتؤُۡ يمنوُنَ بيٱللَّّيِۗ وَلوَۡ ءَامَنَ أهَۡل

ٱلۡ يكتَ يبَّٰ لَكََنَ خَيۡرٗا لهَُّمۚ ذيمنۡهُمُ ٱلمُۡؤۡ يمنوُنَ وَأكَۡثََهُُمُ ٱلۡفََّٰ يسقُونَ ) ١١٠ (


 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (110).


Secara maknawi ayat tersebut memberikan ketegasan bahwa mukmin itu adalah sebagai manusia subjek, artinya pemimpin asli atau informal leader atau indigenous leader, yang di dalam bahasa Hadits, Rasulullah menyebutkan dengan istilah “ra’un”, yaitu yang mempunyai tugas dan tanggung jawab keumatan untuk menegakkan kemanusiaan yang utuh. 

 B. Dalam upaya keumatan melaksanakan pengkondisian terhadap generasi melalui berbagai bimbingan menuju perwujudan nilai kemanusiaan dalam pengertian peradaban yang benar, membawa dan memindahkan umat dari kegelapan kepada cahaya iman yang terang benderang. Kemudian membuka kemajuan dunia, kesemuanya tersebut dilakukan secara bersamaan dengan berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al Qur-an Surah Fushilat, 41 : 34-35, yaitu :

 

وَلََّ تسَۡت يوَي ٱلَۡۡسَنَةُ وَلََّ ٱلسَّ ذييئَةُُۚ ٱدۡفَعۡ بيٱلَّ يتِ يهَِ أحَۡسَنُ فإَيذَا ٱ يلَّي بيَنۡكََ وَبَيۡنهَُۥ عَدَوََّٰةٞ كَأَنهَُّۥ وَ ي يل  حَۡييمٞ)٣٤ (وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا يلُقََّىهََّٰآ إيلََّّ ٱ يلَّينَ صَبََُواْ وَمَا  يلُقََّىهََّٰ آ إيلََّّ ذُو حَ ذظٍ عَ يظيمٖ )٣٥(


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (34). “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (35).


 Hal tersebut sangat penting dikarenak untuk menghadapi kafirin yang berada pada kondisi yang disebut krisis manusia modern, yang dapat mengancam nilai kemanusiaan, sebagai akibat dari kegoncangan jiwa dan kekosongan ‘aqidah. Ini akan terbukti dalam menghadapi apa yang disebut Era Globalisasi, bahwa globalisasi adalah proses interaksi yang mendunia yang muncul akibat terjadinya revolusi iptek yang senantiasa mengalami perkembangan. Sehingga akan merupakan era kompetitif dalam seluruh bidang kehidupan yang disertai dengan tingkat persaingan yang tinggi. Dan secara kenyataan akan membuat setiap individu dapat berkomunikasi dan berinteraksi relatif bebas. Maka ayat tersebut menuntut kecermatan dalam menelaah secara kaidah ilmu Al Qur-an agar menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang menjadi dasar utama bagi menyempurnakan beberapa cabang ilmu termasuk ilmu komunikasi.

 

Maka dengan pola Pendidikan Pesantren yang berskala Internasional tersebut merupakan dapur pemikiran dalam kepentingan sebagai pusat kajian terhadap

Al Islam, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ulama, dan generasi. Untuk selanjutnya akan melahirkan ‘Ulama intelektual yang memiliki kematangan intelektual (inteliectual maturity) dan kepribadian utuh (personal organization), yang akan bertindak sebagai pemandu masyarakat dunia.


Hal tersebut sangat beralasan mengingat bahwa Al Qur-an mengajarkan dalan Surah Al Imron, 3 : 68 : 

 

إينَّ أوَۡلَ ٱلناَّي س بيإيبرَۡ يهَّٰيمَ ل يلَََّّينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَذََّٰا ٱلن يبَُِّّ وَٱ يلَّينَ ءَامَنوُِۗاْ وَٱللَُّّ وَ يلُّ ٱ لمُۡؤۡ يمنيينَ  )٦٨ (


 “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (68).

 

Tentang Kurikulum

Dalam pembuatan suatu rencana umum yang berkaitan denga bahan-bahan yang bersifat khusus tentang pelajaran yang akan disajikan untuk mengantar dan memberi pembekalan kepada santri sehingga mereka akan mendapatkan tanda bukti lulusan atau sempurna sebagai santri berupa sertifikat untuk memperoleh kemampuan dalam berbagai kepentingan ummat sesuai dengan petunjuk dan tuntutan Islam. Karena itu harus meliputi “intracurricular dan extracurricular”. Yang perlu diketahui bahwa kurikulum yang ditetapkan dalam pesantren tersebut harus ada saling keterkaitan, disebabkan bertujuan untuk mencetak informal-leader, yang dalam Al Hadits disebut “Ra’un”, dalam suatu perencanaan “core curriculum”, yaitu satu kelompok mata pelajaran dijadikan sebagai pusat atau inti dan akan membangun rasa ketergantungan dan menunjukkan hubungan dengan yang tersebut.

 

Sebenarnya curriculum yang berarti “jalan”, yang penyajiannya adalah pengantar bagi pembinaan yang berujung untuk kepentingan karier hidup. Oleh karena itu, dalam pendidikan pesantren yang berskala internasional di samping masalah keilmuan diperlukan faktor-faktor lain yang dapat mendukung bagi pembangunan sumber daya manusia yang utuh paripurna dan berdaya guna dalam berbagai kepentingan yang terkait dengan masalah keumatan dilandasi dengan Ad Din Al Khoslish, agar tidak mengambil selainnya apapun alasannya. Karena masalah pendidikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb sebagaimana dituntutkan Al Qur-an Surah Az-Zumar, 39 : 3, yaitu :

 

أَلََّ يللَّّي ٱ ذيلينُ ٱلۡۡاَليصُُۚ وَٱ يلَّينَ ٱتََّّذَُواْ يمن دُون ييهۦٓ أوَۡ يلََاءَٓ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إيلََّّ يلَقَُ ذيربوُنآَ إيلََ ٱللَّّي زُلۡفََٰٓ إينَّ ٱللََّّ يََۡكُمُ

بيَۡنهَُمۡ يفِ مَا هُمۡ يفيهي يََۡتلَيفُونَِۗ إينَّ ٱللََّّ لََّ يَهۡ يدي مَنۡ هُوَ كَ يذَّٰبٞ كَفَّارٞ  )٣(


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Ad-Din yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata),  “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."  Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (3).

 

Ayat tersebut diambil bagian sudut di antara jurusannya adalah masalah program pendidikan, karena Allah telah memberikan petunjuk-Nya, antara lain:


A. Dalam Surah An Nisa 9 :

 

 وَلََۡخۡشَ ٱ يلَّينَ لوَۡ ترََكُواْ يمنۡ خَلۡ يف يهمۡ ذ ذيرُيَّةٗ يضعَفًَّٰا خَافوُاْ عَلَيۡ يهمۡ فَلۡيتََّقُواْ ٱللََّّ وَلََۡقُول وُاْ قَوۡلَّٗ سَ يديدًا  )٩(

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”


 B. Dalam Surah Maryam, 19 : 5-6, Nabi Zakaria menyampaikan keprihatinannya terhadap generasi dan pernyataannya diterangkan dalam ayat tersebut, yaitu :

 

وَإِ يذنّ يخفۡتُ ٱلمَۡوَ يلَََّٰ يمن وَرَاءٓيي وَكََن يتَ ٱمۡرَأ يتَِ عََقيرٗا فَهَبۡ يلَ يمن لَُّنكَ وَي  ذلَٗا  )٥( ي يرَث ينُِ وَيَ يرثُ يمنۡ  ءَا يل يَعۡقُوبَٞۖ وَٱجۡعَلۡهُ ر ذيب ر يضَ ذيٗا  )٦(


“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau     seorang putra.” (5). “Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridlai.” (6).

 

Dengan demikian maka berarti betapa penting tentang keberadaan kurikulum yang rapi, baik, dan benar, sehingga dengan itu akan berarti telah mempersiapkan metode pendidikan secara memadai.-

 

 

Banyuasin, Sumatera Selatan

Tanggal     :   17 Syawal 1426 H

                      17 Januari 2006 M

Selasa, 30 Desember 2025

INFAQ

INFAQ

Di Yayasan Pendidikan Dan Dakwah AKUIS, kami berikhtiar menjadi wadah/tanzhim Islam yang memiliki dua program utama: Pendidikan dan Dakwah. Infaq adalah dukungan nyata bagi tegaknya nilai-nilai Islam yang murni dan terorganisir/shffan.

Berikut adalah fokus penyaluran dana infaq yang kami kelola:

1. Program Pendidikan

Kami mengelola pendidikan berjenjang untuk memastikan nilai-nilai tarbiyah tertanam kuat:

1.      Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa Al-Islamiy: Fokus pada persiapan Generasi Penerus, Pelangsung, dan Penyempurna perjalanan Islam di masa yang akan datang.

2.      Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqu-Lu el-Muqoffa Al-Islamiy: Jenjang pendidikan dasar yang menanamkan fondasi aqidah dan adab sejak dini.

3.      Taman Kanak-Kanak (TK): Pendidikan anak usia dini yang berbasis pada nilai-nilai tarbiyah Islamiyah.

2. Program Dakwah

Program Dakwah YPD AKUIS bergerak pada tataran akar rumput hingga kebijakan strategis umat:

  • Hisbatus Islamiyah: Wadah dakwah lapangan yang menyasar pembinaan jamaah dan masyarakat muslim secara umum melalui kajian, silaturahim, dan penguatan ukhuwah.
  • Perhimpunan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) Dunia: Sebuah wadah strategis yang menghimpun para ‘ulama, zu’ama, dan cendikiawan muslim. Dana infaq dialokasikan untuk agenda besar:
    • Sosialisasi keberadaan Perhimpunan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi Dunia kepada ‘ulama dan pimpinan organisasi Islam di tingkat nasional maupun internasional
    • Penyelenggaraan Musyawarah Majelis Utama.
    • Mudzakarah Ahlul Halli Wal ‘Aqdi Dunia yang diselenggarakan di setiap akhir tahun Hijriyah sebagai ajang para ulama saling ingat mengingatkan dengan kebenaran dan kesabaran atas dasar Al-Quran dan As-Sunnah.

3. Operasional Yayasan

Dukungan untuk memastikan seluruh fasilitas, administrasi, dan keberlangsungan tanzhim tetap berjalan profesional demi mendukung kedua program pokok di atas.

Prinsip Utama

Demi menjaga muruah (kehormatan) dakwah dan independensi lembaga, YPD AKUIS memiliki kebijakan ketat dalam menerima bantuan. Kami berkomitmen untuk MENOLAK bantuan yang:

  1. Mengikat: Kami tidak menerima bantuan yang disertai syarat yang dapat mengintervensi/mendekte visi, misi, kurikulum pendidikan, maupun independensi Perhimpunan Ahlul Halli wal 'Aqdi Dunia.
  2. Tidak Transparan (Manipulatif): Kami menolak segala bentuk bantuan yang tidak sesuai antara nominal yang diterima dengan nominal yang tertera pada bukti kuitansi/naskah serah terima. YPD AKUIS menolak terlibat dalam praktik manipulasi data atau laporan bantuan yang tidak sesuai fakta di lapangan.

Informasi Teknis Transfer & Konfirmasi

Bagi Bapak/Ibu/Saudara yang ingin menyalurkan infaq, silakan melalui rekening resmi berikut:

  • Bank BRI: 574301007984531
  • Bank BNI: 0172007725
  • Atas Nama: Zuhrisal Husni (Bendahara YPD AKUIS)

Konfirmasi Infaq: Untuk pencatatan dan transparansi, mohon konfirmasi melalui Bendahara YPD AKUIS Pusat:

Kantor Sekretariat: Jalan Raya Palembang – Pangkalan Balai Km. 14, Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan 30961.

Semoga Allah menerima setiap niat baik dan amal shalih kita, memberkahi harta yang telah diberikan, menjadi alasan dijauhkan kita dari adzab akhirat, dan menjadikannya sebab tegaknya kalimatullah yang tinggi.

Senin, 08 Oktober 2012

SITE PLAN CABANG EMPAT LAWANG

Pembangunan Yayasan AKUIS Cabang Empat Lawang terus menggeliat. Seiring dengan rencana pembangunan yang sudah tertuang dalam site plan, sekarang ikwhan semua bisa melihat secara langsung dalam blog ini site plan Yayasan AKUIS Cabang Empat Lawang.
Adapun garis besar rencana pembangunan kedepan sebagai berikut :
- Gedung auditorium/serba guna (1) ; 33x10 m
- Masjid dua lantai, 20x20 m
- Kantor sekretariat (1) ;  20x15 m
- Rumah Pengelola (10) ;
- Asrama Putra dua lantai (2) ; 20x15 m
- Asrama Putri dua lantai (2) ; 20x15 m
- Gedung Madrasah dua lantai (6) ; 21 x 10 m
- Gedung Adm dan Perpustakaan dua lantai (1) ; 20x20 m
- Perumahan (56) ; 10x15 m
- Ruko (9) ; 5x14 m
- Dapur Umum/ Rumah makan (1)

Site Plan Yayasan AKUIS Cabang Empat Lawang

Kamis, 12 April 2012

PROFIL YAYASAN AKUIS




Pimpinan Pusat Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS beralamat operasional di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sesuai dengan namanya, pengurus yayasan melalui Pimpinan Pusat lebih mengkonsentrasikan program-program dibidang pendidikan dan dakwah, sementara usaha dan kegiatan lainnya yang diadakan hanya untuk mendukung program tersebut. Oleh karena itu, selain membangun SDM yang jujur, amanah dan berkualitas maka diatas lahan seluas 5.030 M² yang dimiliki oleh yayasan telah didirikan bangunan-bangunan fisik sebagai sarana utama dan prasarana penunjang, berupa :
  1. Masjid 
  2. Kantor Sekretariat Pimpinan Pusat 
  3. Gedung Pesantren/Ma’had Al Islamy “Aqu-lu eL Muqoffa “ 
  4. Gedung Auditorium 
  5. Asrama Putra 
  6. Asrama Putri 
  7. Taman Kanak-Kanak 
  8. Lapangan olahraga 
Sesuai dengan penamaan yayasan, Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS menitikberatkan kegiatannya pada bidang pendidikan dan dakwah, sehingga usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh yayasan merupakan merupakan program-program yang dimaksudkan untuk menunjang kedua bidang tersebut. Umat Muslim yang ikut andil dan berperan serta dalam lingkungan dan program yayasan terdiri dari berbagai ras/golongan dan kalangan karena yayasan bersifat terbuka dalam program-programnya bagi masyarakat secara umum dan secara khusus bagi umat Muslim dalam struktur kepengurusannya. Oleh karena itu, keberadaan yayasan dapat dikenal masyarakat secara langsung oleh masyarakat melalui program-programnya, baik dikenal dan dirasakan langsung secara khusus oleh masyarakat sekitar yayasan maupun secara tidak langsung oleh semua masyarakat, bahkan dapat dikenal secara mendunia karena yayasan telah menggunakan teknologi dan jaringan internet dalam rangka bersosialisasi sebagaimana hadirnya website akuis.org dan blog ini.

Pendanaan yang didapat dan dikelola oleh yayasan adalah murni berasal dari internal yayasan melalui penerimaan infaq, zakat, waqaf dan shadaqah dari umat Muslim secara khusus dalam lingkungan jamaah pengajian dan secara umum dari umat Muslim lainnya yang ditentukan dari harta yang halal dan tidak bersifat mengikat. Kesadaran berinfaq, zakat, waqaf dan shadaqah merupakan wujud dari “tadabbur Qur-an” yang merupakan kegiatan pengajian rutin yang dikelola oleh pengurus yayasan di komplek pusat yayasan dan cabang-cabang yayasan dalam rangka pembinaan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Sampai dengan tahun 1438/2016 ini Yayasan AKUIS telah memiliki empat cabang kota/kabupaten di Sumatera Selatan, yaitu Cabang Kabupaten Empat Lawang, Cabang Kota Palembang, Cabang Kota Prabumulih dan Cabang Kabupaten OKI.

SEJARAH BERDIRINYA


SEJARAH BERDIRINYA YAYASAN AKUIS
 

Diawali dari proses kajian sehingga melahirkan pemikiran bahwa dakwah Islam harus diketahui oleh ummat dengan menggunakan management yang teratur yang akhirnya sampai pada titik keinginan untuk mendirikan sebuah Yayasan dengan harapan bahwa wadah  dalam bentuk Yayasan ini akan memudahkan dalam memola umat, lalu pemikiran ini ditindak lanjuti dengan bincang-bincang di rumah Bapak Abd. Rozak antara Ustadz Muhammad Bardan Kindarto dengan Ust. Abdul Rozak (alm.) dan 5 atau 6 orang cikal bakal Pengurus Yayasan, dalam pertemuan tersebut hanya disepakati masalah pendirian Yayasan, kemudian pada pertemuan kedua baru diusulkan namanya yaitu AKUI lalu disempurnakan oleh  Ustadz Muhammad Bardan Kindarto dan  disepakati nama Yayasannya, yaitu AKUIS, selanjutnya pada pertemuan ketiga disepakati untuk menguatkan keberadaan Yayasan ke Notaris dan disepakatilah susunan pengurus Yayasan dan diutuslah Bapak Abdul Rozak, Bapak Mat Lasan, Bapak Sukarta Nasim, Bapak Juliar Rasyid, Bapak Soeprapto untuk mengurusnya ke Notaris, setelah Akte Notaris diperoleh lalu disusunlah Progam Pembinaan Manajemen selama satu tahun dengan Pembina tunggal yaitu Bapak Ust. Muhammad Bardan Kindarto yang dihadiri oleh Calon Pengurus yaitu diantaranya Bapak Dalimunthe, Ibu Syarifah, Ibu Nawa. System pembinaannya dengan memakai lembaran tertulis persemester isinya berupa manajemen dalam berbagai aspek yang diperlukan dalam menjalankan Yayasan nantinya. Pada tahun 1990 bulan Oktober  mendapat wakaf tanah dari Bapak H. Zaini yang punya percetakan Mercusuar dari Padang Surai Taji, lalu pada akhir Oktober 1990 diusulkan tanah wakaf tersebut didirikan Pesantren tapi dak disetujui karena dikhawatirkan akan mempunyai kesan bahwa yayasan yang bersifat komersiil kemudian diusulkan membuat Auditorium terlebih dahulu untuk mengumpulkan masyarakat, setelah berjalan sekian lama yaitu pada bulan Oktober 1992 baru selesai pembangunan  Auditorium. Setelah pembangunan auditorium selesai  barulah diadakan Pengajian perdana hari Ahad yang dihadiri oleh jama’ah dari berbagai tempat termasuk Lemabang, pada waktu itu bangunan yang ada baru auditorium dan masih dikelilingi semak belukar, kemudian setelah itu baru dibuat bangunan rumah yang rencananya untuk didiami oleh Pembina Yayasan yaitu Ustadz Muhammad Bardan Kindarto, namun kebijaksanaan dari pengurus yayasan ini ditolak, beliau tidak mau mengambil keuntungan pribadi karena diberi fasilitas berupa rumah dan juga malu dihadapan Allah SWT, lebih kurang 10 hari kemudian pengurus yayasan kembali mendatangi Ust. Muhammad Bardan Kindarto dan menyarankan agar beliau menempati rumah yang sudah disiapkan tadi tapi bukan atas kepemilikan melainkan hanya sebagai hak pakai sebagai Pembina hal ini disetujuinya, pada tahun 1993 Pembina Yayasan menempati rumah yang baru dan dalam perjalanan nantinya rumah tersebut dijadikan Taman Kanak-Kanak Al Muqoffa sekarang,  selanjutnya dibangun mess Putra, kemudian baru dibangun kantin yang sekarang menjadi mess putri, sesudah itu baru dibangun masjid. Tahun 1995 diadakan rapat untuk membuat komplek dan membeli tanah lalu dimulailah pembangunan komplek  27 Rajab Jum’at pertama kali, lalu didirikan madrasah 1996, kemudian dibuatlah program  Pendidikan Pinterm (Pondok Intelektual Remaja Muslim) dengan siswa-siswa angkatan pertamanya seperti Rizal Yandi, Arbani,Tabrani, Buyung, Budiman, pada tahun 1997 disusul angkatan kedua yaitu Endang(alm), Aidil Fitri, Trisida (almh), Eko Saputra, Adi Dalimunthe, Ikin Sorikin, A. Daulay, Ana, Herman sedangkan angkatan ketiga  Budi Sartomo, Andi Kurniawan, Wagio. Adapun materi yang diberikan kepada siswa-siswa antara lain : Ilmu Quran, Ilmu Hadits, Tata Dakwah, Ilmu Jiwa, Ilmu Psikologi, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Management. Pada akhir tahun1998 baru terbangun rumah pribadi Pembina yang sekarang, selain itu juga sudah rumah Bapak Salman, dan Bapak Nuh.
        Setelah program pendidikan Pinterm berakhir, dilaksanakanlah Program Pesantren Ramadhan selama 25 hari, program ini berjalan beberapa kali bulan romadhan, yang diantara pesertanya ada yang berasal dari luar sumatera selatan.