Dengan tanpa mengabaikan tentang kenyataan bahwa
pandangan terhadap lingkungan akan terbagi menjadi dua skala, yaitu nasional
dan internasional. Karenanya sebagai tapakan awal Lembaga Pendidikan dan
Keilmuan dalam Pesantren-Pesantren Islam yang masih lumpuh,dan ini juga
termasuk Lembaga Pendidik an Umum, harus diupayakan untuk dapat menjawab
berbagai perkembangan dan tantangan serta tuntutan-tuntutannya. Maka diperlukan
sumber daya manusia yang memang benar-benar handal dalam menghadapi berbagai
masalah tersebut.
Dalam hal ini sebagian ummat Islam masih
menterlantarkan pujian-pujian dalam Al Qur-an,disebabkan sebagian dari para
Da’inya masih kurang peka terhadap keadaan, karena cara pemahaman mereka
terhadap Al Qur-an hanya sebatas tekstual. Oleh karenanya penting memahami
profil Lembaga Pendidikan Pesantren berskala Internasional, antara lain:
- Dalam upayanya harus mempunyai sasaran yang jelas yaitu agar misi
yang diemban harus terkait erat dengan kenyataan perkembangan keadaan masyarakat
secara nasional dan internasional, sehingga dengan itu dalam metode
ramuannya sebagai langkah awal dapat memanfaatkan “Perilaku yang
terkandung dalam Panca Sila” dalam kepentingan memunculkan ide-ide panduan.
Hal ini membutuhkan penjelasan yang bersifat khusus, karena apapun
keadaannya hal tersebut merupakan produk dan peninggalan Ummat
Islam.Proses ini sangat keterkaitan erat dengan peristiwa Perjnjian Hudaibiyah
dan pengerahan Rsulullah saw dalam menghadapi Tabuk sebagai pra perjalanan
menuju Futuh Makkatul Mukarramah.-
- Dalam kenyataan kondisi sumber daya ummat secara nasional ternyata
mengalami keterbelakang- an ganda,yaitu keterbelakangan dalam konteks bangsa
dan dalam konteks global. Dan hal tersebut akan berakibat fatal manakala
gong AFTA dipukul pada tahun 2020 yaitu suatu keadaan yang bisa
memarjinalkan bangsa Indonesia akibat liberasisasi ekonomi Asia Pasifik.
Dalam menghadapi hal demikian, selama difaham secara logika maka tidak ada
jalan lain kecuali dibutuhkan kemampuan daya saing dalam percaturan global
tersebut, maka berarti akan mencapai hasil yang relatif sangat kecil bila
dihubungkan dengan kenyataan yaitu berupa peningkatan berbagai kasus yang
disengajakan oleh bangsa-bangsa Barat yang bertujuan untuk mengadakan
tekanan-tekanan terhadap upaya pengembangan bangsa Indonesia.Akan tetapi
bila ditelaah secara seksama berdasarkan petunjuk Al Qur-an,maka jalan
mengatasi kondisi tersebut harus dilaksanakan pembinaan sumber daya
manusianya, yang meliputi aspek keulamaan, aspek keintellekkan, aspek
pengembangan, dan aspek menejemen organisatorik.-
- Muslim adalah sebagai Subject, dengan demikian maka berarti
Manusia sebagai sasaran utamanya dalam keterkaitan masalah pendidikan
tersebut, dan hal ini merupakan tujuan yang dibangun. Dengan demikian akan
memberi nilai tambah insani dalam memberikan makna tentang hubungan antar
bangsa-bangsa didunia. Sedangkan masalah Ekonomi dan Teknologi itu sekedar
bertujuan untuk mengantar kepada kenyataan yang bersifat Islami.-
Dengan penjelasan tersebut maka akan memberikan makna
terhadap Difinisi Pendidikan Skala Internasional itu sendiri, yaitu upaya
menanamkan, menumbuhkan dan menyuburkan serta mengembang-kan makna Pengabdian
Tiga Dimensi secara proporsional; Maka dengan definisi tersebut akan berarti
bahwa Pendidikan menuntut kemampuan dalam mengantisipasi berbagai perubahan
dalam kehidupan masyarakat diberbagai bangsa, dan termasuk masalah peradaban.-
Dalam pembeberannya, masalah Pendidikan yang berskala
Internasional tersebut harus merpersiapkan diri dalam menghadapi beberapa
tantangan,antara lain:
- Tantangan tentang kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan
masa depan; Menghadapi hal tersebut adalah bukan tidak mungkin apabila
dihadapkan dengan berbagai kemajuan dunia ilmu dan teknologi, disadari
atau tidak secara pasti akan menguras pemusatan perhatian terhadap proses
tadabbur Al Qur-an dan menyempurnakan kembali pemahaman terhadap Al Hadits
Shahih, sehingga dapat kelihatan bukti Kebenaran bahwa Al Qur-an dan Al
Hadits Shahih adalah pengendalai utama bagi perjalanan kiprah ummat
manusia disegala zaman sampai akhir zaman.-
- Tantangan dibidang kemampuan untuk menghasilkan para lulusan yang
berkwalitas; Dalam hal ini adalah bertujuan untuk memperkuat dalam
upayanya menjadi Muttabi’ur rasul,sehingga program kemanusiaan senantiasa
menjadi program unggulan, dalam rangka membangun Khilafah diseluruh
bangsa-bangsa didunia ini sesuai dengan kehendak petunjuk dan janji
Allah.-
- Tantangan dalam hal upaya sehingga apapun dan betapapun keadaan
yang mungkin merupakan medan
yang sangat berat ditengah-tengah gejolak perubahan dan globalisasi, namun
wajib mengaktualisasikan misi Islam, karena hal tersebut adalah bagian
daripada jihad yang sangat mulia.-
- Tantangan berupa upaya pelestarian yang didalamnya menuntut
kemampuan keberhati-hatian dan kerapian dalam memproses agar benar-benar
berlandaskan kepada Al Qur-an dan Al Hadits yang Shahih. Karena
apapun alasannya maka secara nurani ummat manusia sedunia mendambakan buah
bukti dari makna Islam adalah pemersatu dan membawa kepada Rahmatan lil
‘Alamin.-
Untuk selanjutnya yang menjadi dambaan ummat pada
umumnya dan khususnya Dunia Islam adalah lahirnya tokoh-tokoh dunia yang
berkwalitas, kokoh dan kuat dalam berpedoman kepada Al Qur-an dan Al Hadits
Shahih, sehingga dalam mengadakan pendidikan pesantren yang berskala
internasional harus dapat mengupayakan bagi terwujud generasi yang berkemampuan
dalam penguasaan dan pengembangan terhadap ilmu/ bidang-bidang keilmuan.
Kemudian berkemampuan secara profesional dalam mengentaskan kepada realitas
kehidupan maasyarakat diseluruh bangsa-bangsa didunia, terutama dalam hal
wawasan dan perilaku serta ilmu terapan;
Maka dengan demikin akan berkemampuan membawa pengaruh terhadap ummat dalam
segala kiprah kerja yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan.-
Al Qur-n sendiri telah
menyediakan bimbingan dan panduan serta petunjuk yang sangat sempurna
dengan ayat-ayatnya yang meliputi Insaniyyah(masalah perilaku), Kauniyyah
(masalah rahasia sumber daya alam), Tarikhiyyah (masalah sejarah manusia dan
kemanusiaan),dan Taqorrub/Ubudiyyah (masalah hubungan dan pendekatan kepada Allah Yang Pencipta). Dan
bahkan lebih dari itu,sehingga dalam Al Qur-an telah Allah tetapkan didalamnya
berisikan liputan Tingkatan Ilmu, yaitu Tingkatan Ekzak, Tingkatan Abstrak, Tingkatan Relatif
Abstrak, dan Tingkatan Absolut Abstrak.-
Dengan demikian maka sudah semestinya akan merupakan
kewajiban bagi setiap Muslim mempunyai rasa terpanggil dan dituntut keikut
sertaannya dalam membangun Pendidikan Kepesantrenan yang berskala Dunia. Karena
mengingat petunjuk Allah bagi mendukung ketetapan Sunnatullah tentang
keberadaan masyarakat manusia yang berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah,sehingga
masalah Kemanusiaan adalah sebagai topik utama Al Qur-an [qa13s49=al Hujurat],antara
lain:
01. Allah telah menetapkan bahwa Ummat
Mukminin adalah sebagai “Khoiro Ummah”, sebagaimana difirmankan dalam Surah Ali
Imron 110,yaitu:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ
اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ
وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Keberadaan kamu sekalian
(Ummat Mukminin) adalah sebaik-baik ummat yang dengan sengaja dikeluarkan
kepada ummat manusia karena kamu sekalian senantiasa melaksanakan amar bil
ma’ruf dan nahyu ‘anil munkar dan beriman dengan Allah. Dan kalaulah Ahli Kitan
itu mau beriman niscaya adalah baik bagi mereka,(tetapi dalam kenyataannya)
dari antara mereka (menjadi)orang-orang Mukmin dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang fasiq”.-
Secara maknawi ayat tersebut
memberikan ketegasan bahwa Mukmin itu adalah sebagai manusia subject, artinya
pemimpin asli atau informal leader atau indigenous leader,yang didalam bahasa Hadits
maka Rasulullah menyebutkan dengan istilah “Ra’un” yang mempunyai tugas dan
tanggung jawab keummatan untuk menegakkan kemanusiaan yang utuh.-
02. Dalam upaya keummatan melaksanakan
pengkondisian terhadap generasi melalui berbagai bimbingan menuju perwujudan
nilai kemanusiaan dalam pengertian peradaban yang benar, membawa dan
memindahkan ummat dari kegelapan kepada cahaya iman yang terang benderang,
kemudian membuka kemajuan dunia. Kesemuanya tersebut dilakukan secara bersamaan
dengan berdasarkan al Qur-an dan al-Hadits Shahih. Sebagaimana
difirmankan dalam al Qur-an Surah Fushilat 34-35,yaitu:
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا
السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ
وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ
اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
“Dan tidak akan pernah sama
derajat kebaikan itu dan tidak pula dengan derajat kejahatan, tolak lah (derjat
kejahatan itu) dengan yang lebih baik.Maka tiba-tiba yang diantaramu dan
diantaranya ada permusuhan,akan menjadi seolah-olah seperti sahabat yang
akrab”;”Dan tiadalah akan ada sifat (demikian)itu melainkan pada orang-orang
yang shabar, dan tiadalah akan ada sifat (demikian)itu melainkan orang yang
mempunyai keberuntungan yang besar”.-
Hal tersebut sangat penting,
dikarenakan untuk menghadapi kafirin yang berada pada kondisi yang disebut
krisis manusia modern, yang dapat mengancam nilai kemanusiaan, sebagai akibat
daripada kegoncangan jiwa dan kekosongan ‘aqidah. Ini akan terbukti dalam
menghadapi apa yang disebut Era Globalisasi, bahwa Globalisasi adalah suatu
proses interaksi yang mendunia yang muncul akibat terjadinya revolusi Ip-Tek
yang senantiasa mengalami perkembangan, sehingga akan merupakan era-competitive
dalam seluruh bidang kehidupan yang disertai dengan tingkat persaingan yang
tinggi.Dan secara kenyataan akan membuat setiap individu dapat berkomunikasi
dan berinteraksi secara relatif bebas; Maka ayat tersebut menuntut kecermatan
dalam mentelaah secara Kaidah Ilmu Al Qur-an agar dapat menciptakan suatu ilmu
pengetahuan yang menjadi dasar utama bagi menyempurnakan beberapa cabang Ilmu
termasuk Ilmu Komunikaasi.-
Maka dengan Pola Pendidikan Pesantren yang berskala
Internasional tersebut akan merupakan dapur pemi-kiran dalam kepentingan
sebagai pusat kajian terhadap Al Islam, Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi,Ummat serta Generasi. Untuk selanjutnya akan melahirkan para ‘Ulama
Intellect dan Intellectual ‘Ulama atau yang diperkenalkan oleh Al Qur-an
sebagai Al’Ulama dan Ahli Dzikir yang memiliki kematangan intellectual
(:Intellectual Maturity) dan kepribadian yang utuh (:Personality Organization),
yang akan bertindak sebagai pemandu masyarakat dunia.-
Hal tersebut sangat beralasan mengingat bahwa Al
Qur-an mengajarkan dalam Surah Ali Imron 68:
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ
بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا ۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Sesungguhnya yang paling utama dari kalangan manusia
dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi(Muhammad)ini dan
orang-orang yang beriman. Dan Allah itu pelindung orang-orang Mukminin”
0 komentar:
Posting Komentar